Breaking News

Kamis, 26 Maret 2015

Siapa Syiah Houthi dan Apa yang Mereka Inginkan di Yaman?


JUMLAH mereka hanya sekitar 35% di Yaman. Namun, entah bagaimana, Syiah Houthi sangat kuat di Yaman. Hampir satu tahun lalu misalnya, kaum minoritas ini melakukan protes di jalan-jalan ibukota Yaman dan mengancam pemerintah legal untuk mundur.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada tanggal 17 Agustus 2014, pemimpin Syiah Houthi Abdulmalek al-Houthi menuntut agar subsidi BBM, yang telah dipotong secara signifikan pada akhir Juli sebelumnya, harus dikembalikan. Dia mengancam pemerintah untuk memenuhi tuntutan Houthi tersebut, atau Syiah akan mengambil alih negara. Bagaimana bisa sebuah kelompok yang tidak penting di sebuah negara mengeluarkan ultimatum semacam ini?
“Pemerintah ini adalah boneka, yang acuh tak acuh terhadap tuntutan rakyat,” demikian kata al-Houthi dalam sambutannya, dan tak jelas, rakyat mana yang mereka maksud.
Sejak tahun 2011, Syiah Houthi menuntut kursi lebih di kancah politik Yaman. Tuntutan yang aneh ini menemui ujungnya dengan pemberontakan ketika tidak dikabulkan oleh pemerintah Yaman.
Siapa Houthi?
Secara resmi, Houthi dikenal dengan nama Ansarallah. Mereka adalah kelompok pemberontak dan hidup sebagai sebuah gerakan teologis yang selalu meminta toleransi dan perdamaian di awal 1990-an, demikian menurut Ahmed Addaghashi, seorang profesor di Sanaa University dan penulis dua buku tentang gerakan ini, Fenoman Houthi dan Houthi dan Politik dan Militer Masa Depan mereka.
Addaghashi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa gerakan Houthi awalnya bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan saja. Kelompok ini jelas berafiliasi pada sekte Zaidi Syiah.

“Mereka memulai gerakan mereka Trut Youth Forum di awal tahun sembilan puluhan. Mereka sempat terpecah jadi dua, golongan yang menyerukan keterbukaan (untuk menyatakan Syiah mereka), sedangkan yang kedua terus mendompleng di balik warisan tradisional,” kata Addaghashi.
Ironisnya, kata Addaghashi, Hussein al-Bader Addian Houthi, pendiri kelompok, yang pertama kali mengbobarkan perang. “Gerakan beralih ke senjata pada tahun 2004 atas dasar membela diri ketika perang pertama dengan pemerintah meletus.”
Addaghashi mengatakan bahwa ketegangan antara pasukan keamanan Yaman dan Houthi pertama kali terjadi ketika para Syiah melakukan protes di masjid-masjid di ibukota. Tuntutan mereka adalah sama sepanjang zaman, bahwa presiden ketika itu, Ali Abdullah Saleh, harus mundur dari jabatannya. Saleh bertindak tegas. Ia memerintahkan siapapun Syiah Houthi yang mengganggu jamaah masjid haruslah ditangkap.
“Perang pertama dimulai ketika Saleh mengirimkan pasukan ke provinsi Saada untuk menangkap Hussein yang menolak untuk mengekang pendukungnya,” kata Addaghashi. Hussein al-Houthi tewas pada tahun 2004 setelah Saleh mengirim pasukan pemerintah ke Saada. Perang intermiten yang panjang itu berakhir dengan perjanjian gencatan senjata pada tahun 2010.
Namun, diam-diam Houthi menyusun makar. Pada tahun 2011, Houthi dengan kekuatan senjata yang mengerikan—dan dari mana asalnya?—berada di garis depan dalam pemberontakan melawan Saleh.

“Sejak awal, kelompok ini menuntut wilayah yang lebih luas. Mereka menolak ide negara federal enam wilayah bagian. Mereka menginginkan Sanaa, plus satu wilayah lain sesuai keinginan mereka. Kover besar mereka adalah naiknya harga bahan bakar dan dengan segera menggalang dukungan dan konsesi politik,” April Longley Alley, spesialis Yaman dengan International Crisis Group, memaparkan kepada kantor beritaAFP.
“Apa yang terjadi sekarang tampaknya menjadi adalah tawar-menawar politik yang semakin berbahaya dari Syiah Houthi untuk menjadi kekuatan politik yang dominan di utara dan di pemerintahan nasional,” katanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG