Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nasrullah atau dikenal dengan Masjid Batu di Kampung Hulu, Kecamatan Teluk Pakedai dihadiri ribuan jamaah. Mereka datang dari berbagai tempat di Kalbar. Biayanya pun berasal dari sumbangan para jamaah.
MASJID Nasrullah dikenal pula dengan nama Masjid Batu atau Langgar Batu. Masjid ini didirikan Ismail Mundu bersama salah seorang sahabat sekaligus muridnya, Haruna. Masjid itu kini menjadi tempat wisata sejarah bagi wisatawan sekaligus mengenang jasanya.
Masjid Batu terletak tidak jauh dari Makam Ismail Mundu. Hingga saat ini, masjid tersebut masih terawat dengan baik. Dibagian kanan masjid terdapat dua foto. Foto tersebut tak lain adalah gambar sang pendiri masjid, Ismail Mundu dan Haruna.
Masjid Batu juga dijadikan tempat bagi masyarakat untuk melepas niat. Melepas niat menjadi istilah yang populer di masyarakat bagi mereka yang memiliki hajat atau tujuan tertentu. Tak heran ketika bertandang ke sana, sejumlah orang yang saya temui menyangka saya juga akan melepaskan niat. Dulunya, pada masa Ismail Mundu masih hidup, masjid ini menjadi pusat pendidikan ilmu agama Islam.
Selain di Masjid Batu, Ismail Mundu banyak mengajar di tempat lain. Sehingga muridnya tersebar di banyak tempat. Menurut Riva’i, setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Batu ramai dipenuhi masyarakat yang datang dari berbagai wilayah di Kalbar.
“Saya tidak belajar langsung dengannya, melainkan kepada muridnya. Dari berbagai cerita orang yang belajar langsung dengannya. Setiap Maulid Nabi, beliau bersama muridnya dari berbagai daerah berkumpul di masjid tersebut untuk mengadakan maulid,” terangnya. Pada saat jalan darat belum bisa dilalui, orang yang datang ke Masjid Batu bisa beberapa motor air.
Namun saat ini masyarakat memilih jalur darat kecuali mereka yang membawa beragam keperluan acara seperti bahan-bahan makanan. “Kalau dulu masih menggunakan motor air tapi kalau sekarang sih lebih banyak menggunakan motor darat. Mereka datang tidak secara serempak tapi bisa ribuan orang yang datang,” katanya. Menurut Surahudin, masjid tersebut didirikan sekitar tahun 1926.
Masjid itu di kenal dengan nama Masjid Batu, sebab saat itu belum ada bangunan yang menggunakan batu bata. “Istilahnya saja masjid batu. Sebab zaman dulu itu belum ada bangunan yang menggunakan bata dan porselen ini,” katanya.
Padahal bangunan dari masjid ini seperti bangunan masjid biasa. Umumnya bahan baku pembuatan masjid didatangkan langsung dari Singapura. Dibeberapa sisi, sudah dilakukan renovasi pada masjid batu ini. Hanya saja untuk bagian dalamnya tidak terlalu banyak. Sebab para pengurus masjid ingin menjaga keaslian masjid ini. Dulunya pagar masjid terbuat dari beton.
Ukurannya pun rendah. Namun karena banyaknya ayam yang sering masuk ke masjid, oleh pengurus terasnnya kemudian dibangun tinggi sehingga menjadi dinding masjid.Inilah yang membuat masjid batu seperti berada di dalam masjid.
Pada dinding masjid aslinya, diberi cat warna hijau. Sedangkan di mimbar terdapat gapura yang bewarna kuning. Terdapat beberapa pintu. Sebenarnya pada bangunan awal hanya ada empat pintu saja yang terletak dua di kiri dan dua di kanan. Namun kini pada bagian depan terdapat pula dua pintu tambahannya. “Pintu yang kiri dan kanan itu masih asli dari masjid pertama,” kata dia menceritakan asal muasal masjid berukuran 8x 8 meter itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar