Breaking News

Jumat, 08 Mei 2015

Mengintip Kegiatan Minoritas Muslim di Pedalaman Australia


Saban hari Jumat di Kota Ararat - 50-an warga Muslim berkumpul di sebuah bangunan kecil dekat stasiun kereta.
Demikianlah suasana ibadah mingguan umat Islam yang minoritas di kota pedalaman Victoria di luar Kota Melbourne.
Di bangunan kecil itu pula, organisasi masyarakat Muslim bernama Islamic Welfare Association sesekali bertemu pihak Gereja Katolik setempat untuk kegiatan bersama.
Namun tak lama lagi, warga Muslim di kota berpenduduk 8000-an jiwa itu, akan memiliki masjidnya sendiri.
Hal itu karena Pemerintah Kota Ararat telah memberikan izin pembangunan, yang juga disetujui oleh pemuka agama lain di kota itu.
ABC menemui empat keluarga Muslim--yang sama seperti warga lainnya merasa bangga dengan Ararat dan sudah menganggap kota itu sebagai kampung halaman.
Keempat keluarga ini mengakui agama yang mereka anut itu seringkali disalahpahami oleh penduduk lainnya--seakan-akan mereka merupakan ancaman bagi masyarakat setempat.
Keluarga Anas Ghazal dan Kimberly Amatullah
Anas Ghazal adalah seorang dokter di RS Ararat.
Pria kelahiran Suriah ini bertemu istirnya, Kimberly, saat wanita kelahiran Australia ini berkunjung Suriah untuk memperdalam pelajaran Alquran.
"Kami dikenalkan satu sama lain, saling mencintai, dan akhirnya saya melamar dia," kata Anas.
"Kami menikah dan tinggal di Suriah selama dua tahun."
Kimberly sendiri memeluk Islam di usia 18 tahun, jauh sebelum ia bertemua Anas.
"Saat itu saya baru tamat SMA, dan mencari makna hidup saya," jelas Kimberly.
"Guru agama saya orang Suriah, jadi saya pergi ke sana untuk belajar agama dan merasakan kehidupan dalam budaya yang berbeda,' katanya.
Suami-istri ini pindah ke Ararat dari Kota Bendigo tiga bulan lalu, bersama tiga anak mereka. Kimberly kini sedang hamil anak keempat.
Kehidupan mereka sama belaka dengan pasangan keluarga muda lainnya - bekerja, antar-jemput anak ke sekolah, belanja, memasak dan kegiatan keluarga lainnya.
Mereka mengaku lebih rileks menjalani kehidupan di kota pedalaman ini dibandingkan dengan kota besar seperti Melbourne.
Namun tantangannya, tidak semua warga memiliki pemahaman yang luas mengenai perbedaan agama seperti pada umumnya warga di perkotaan.
Kimberley sendiri mengaku dalam 14 tahun terakhir sejak ia mengenakan jilbab, hanya tiga kali sepanjang yang ia ingat ia secara langsung mendapat komentar negatif dari orang lain.
Osman Kokcu
Pria kelahiran Turki, Osman Kokcu, sudah menetap di Australia selama 14 tahun--kini ia tinggal dan bekerja di rumah potong hewan di Ararat.
Istri dan anaknya harus tinggal di Melbourne karena alasan sekolah anaknya di sebuah SMA. "Saya bertemu mereka di akhir pekan," katanya.
Osman adalah pengurus Islamic Welfare Association di Ararat, yang bertujuan saling membantu di antara keluarga Muslim.
"Misalnya ada warga Muslim yang baru datang ke sini--kami turut membantu mencarikan rumah dan pekerjaan," kata Osman.
Keluarga Saqib Gondal dan Misbah Saqib
Pasangan suami istri Saqib dan Misbah memutuskan untuk meninggal kehidupan kota besar dan memilih tinggal di kota pedalaman.
Saqib adalah supir taksi di Ararat dan mengaku memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dibanding saat tinggal di kota besar.
"Akhirnya kami bisa membeli rumah di sini, dengan harga cicilan yang lebih murah dibandingkan harga sewa rumah di Melbourne," ujarnya.
Keluarga ini memiliki dua orang anak. Dan sebagai supir taksi, Saqib merasakan langsung bagaimana berinteraksi dengan warga lainnya setiap saat.
"Penumpang langganan bahkan membuatkan barang-barang untuk anak kami. Ada yang membuatkan baju hangat, bahkan ada yang membuatkan selimut," tutur Saqib.
Sebaliknya, di saat perayaan Natal Saqib sibuk mengantarkan kartu ucapan kepada pelanggannya.
Keluarga Riaz Mohd dan Remandeep Kaur
Riaz dan Remandeep berasal dari kota yang sama di India--namun mereka tak dibolehkan menikah karena alasan perbedaan agama.
Mereka pun pindah ke Australia. Remandeep yang tadinya beragama Sikh kemudian memeluk Islam.
Pasangan ini datang ke Ararat empat tahun lalu demi memenuhi syarat visa mereka--yaitu harus tinggal di daerah pedalaman. Kini keduanya bekerja di rumah potong hewan di kota itu.
"Riaz bekerja sebagai pemotong hewan dan memastikan prosesnya secara halal sedangkan saya bekerja sebagai petugas pengawas daging," ujar Remandeep.
Remandeep mengaku diterima oleh warga sekitarnya dan karena itu menyatakan, "Saya mencintai Australia dan ingin menghabiskan hidup di negara ini".

Read more ...

Selasa, 05 Mei 2015

Amerika Lindungi Pameran Kartun Nabi, Yang Dikenal Penyebar Kebencian Islam

Untuk lomba yang ‘melukai perasan kaum Muslim sedunia’ ini panitia menyediakan hadiah uang 10.000 US Dolar

Agen-agen Polisi dan Biro Penyelidik Federal (FBI) mengaku sudah bertahun-tahun memonitor salah seorang dari dua pria bersenjata yang ditembak mati hari Ahad, 3 Mei 2015 karena melepaskan tembakan di sebuah Pameran Kartun Nabi Muhammad di Texas yang dijaga ketat polisi.
Kedua pria ini diidentifikasi sebagai Elton Simpson dan Nadir Soofi, dan mereka tinggal satu kamar pada sebuah apartemen di Phoenix, Arizona.
Simpson diketahui sedang diawasi sejak 2006 dan pada 2011 terbukti berbohong kepada agen-agen FBI mengenai niatnya bergabung dalam jihad di Somalia.
Dikutip AFP, Pameran Kartun Nabi Muhammad ini dilindungi pasukan penjinak bom, FBI, dan sebuah tim SWAT yang terlibat dalam penjagaan, kata polisi Garland.
Polisi dan agen federal mengaku telah merencanakan pengamanan pameran itu berbulan-bulan sebelum acara di Garland, Dallas, itu dibuka.
Pameran yang digelar oleh American Freedom Defense Initiative (AFDI), organisasi anti Islam berkedok kebebasan berpendapat ini juga digambarkan sebagai kelompok pembenci Islam. AFDI bahkan membayar aparat keamanan US$ 10.000 atau sekitar Rp 130 juta untuk perlindungan tambahan.
Pameran AFDI yang bertajuk “Muhammad Art Exhibit and Cartoon Contest” (Pameran Seni dan Lomba Muhammad) ini menawarkan hadiah sekitar Rp 130 juta bagi kartun terbaik yang menggambarkan Rasulullah Muhammad. Sementara penggambaran Nabi Muhammad dianggap menghina Islam dan selama berkali-kali telah membuat marah kaum Muslim selusuh dunia.
Di sisi lain, Amerika justru membiatkan pameran yang diorganisir Pamella Geller, ketua AFDI organisasi berkedok kebebasan pers dan kebebasan bicara yang selama ini dikenal sebagai kelompok sayap kanan penyebar kebencian terhadap Islam dan selama ini telah mensponsori kampanye iklan anti-Islam dalam sistem transportasi di seluruh negeri.
Sebelum ini, aksi koran Denmark Jillands-Posten pada 2005 yang mempublikasikan 12 kartun Nabi Muhammad memicu kerusuhan di seluruh dunia. Juga serangan pembunuhan di kantorCharlie Hebdo diduga dipicu publikasi karikatur Nabi Muhammad. Juga penembakan orang tak dikenal ke sebuah pertemuan di Kopenhagen yang menampilkan karikaturis Swedia yang menggambar karikatur Nabi Muhammad, diduga dipicu hal yang sama.
Sementara itu, penggagas acara ini, Pamella Geller menyatakan pada Fox News, ia sengaja memilih Garlad, Texas sebagai lokasi pameran, sebagai tandingan atas konferensi kelompok Muslim Amerika yang memerangi Islamophobia  yang pernah digelar di Garland. Sekedar catatan, untuk lomba yang ‘melukai perasan kaum Muslim sedunia’ ini panitia menyediakan hadiah uang 10.000 US Dolar
Read more ...

Pentingnya Jihad Bil Qalam

Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih

SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja. Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; “Siapa yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)
Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis. Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya.  Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.
Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan, pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban mulia.
Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang disebut dengan Jihad bil qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan membasmi kebodohan dengan tinta.
Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”
Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.
Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa. Dalam alam pikiran kami, karomah adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.
Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah ini, mengatakan, “Karomah mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.
Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah dengan karya Kitabul Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya, Imam Syafi`i dengan Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang sepanjang masa.
Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.” Wallaahu A`lam Bis Showaab.
Read more ...

Senin, 04 Mei 2015

Indonesia, Darurat Prostitusi


PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta mengkaji wacana legalisasi dan lokalisasi pelacuran. Selain berencana melegalkan prostitusi di satu tempat khusus, pemerintah DKI akan memberikan sertifikat bagi pelaku prostitusi. Hal ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa pelacuran sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta. Juga adanya anggapan bahwa menjamurnya prostitusi online dan prostitusi terselubung merupakan akibat dari dihapuskannya lokalisasi.
Wacana ini menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Benarkah lokalisasi merupakan solusi bagi permasalahan prostitusi?
Adanya lokalisasi berarti pemerintah melegalkan lokalisasi dan prostitusi. Pelegalan ini memelihara adanya dua pihak, pihak penjaja dan penikmat. Pelegalan ini pun memperpanjang penularan penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Hal ini pun akan berdampak bagi kehidupan berkeluarga yang tidak harmonis di tengah masyarakat.
Masih banyak efek negatif yang akan ditimbulkan dari pelegalan prostitusi ini dengan adanya lokalisasi. Akhirnya, solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengurangi atau mengentaskan masalah prostitusi justru menimbulkan dampak buruk lainnya.
Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia menawarkan solusi bagi permasalahan prostitusi ini.
Pertama, negara harus menegakkan hukum yang tegas kepada setiap pelaku prostitusi. Baik itu mucikari/germo, juga PSK dan penikmat jasanya. Dalam Islam, hukuman bagi para pezina adalah dengan dirajam jika ia sudah menikah, atau dicambuk seratus kali jika belum menikah. Hukuman ini disaksikan di depan masyarakat agar terjadi pembelajaran bagi yang lain. Hukuman dalam Islam ini memberikan efek jera bagi pelaku dan efek preventif bagi masyarakat yang lain.
Kedua, negara harus memenuhi setiap kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) dan kebutuhan dasar (kesehatan, pendidikan, dan keamanan) setiap individu masyarakatnya. Karena alasan utama PSK melakukan prostitusi adalah kemiskinan.
Negara juga harus memberikan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, dengan penanaman keimanan dan ketakwaan. Selain dibekali dengan keahlian dan ketrampilan untuk berkarya bagi para PSK. Agar tidak ada lagi PSK yang kembali menjajakan dirinya.
Ketiga, adanya dakwah yg diemban oleh negara untuk memberikan edukasi ke tengah masyarakat. Di satu sisi agar para pelaku dan penikmat prostitusi sadar kesalahannya. Di sisi lain, menyadarkan masyarakat tentang apa yang menjadi tujuan hidup sesungguhnya dan memelihara gaya hidup sesuai tuntunan Islam dan menjauhkan dari gaya hidup hedonistis.
Keempat, peran masyarakat yang peduli dan aktif terhadap kondisi lingkungannya. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk.
Kesemuanya ini dapat terlaksana dengan adanya penerapan Islam sebagai sistem dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaitan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]
Semoga kita bukan tergolong kepada orang yang mengikuti jejak syaitan. Semoga Allah selalu menempatkan kita ke dalam jalan-Nya, dengan memperjuangkan kembali penerapan agama-Nya di muka bumi. Wallahu’alam bish shawab.
Read more ...

Pamela Geller, Islamofobi Yang Tidak Paham Jika Dulu Amerika Adalah Negeri Muslim


Eramuslim.com – Nama Pamella Geller sedang menjadi sorotan internasional. Wanita berusia 56 tahun asal New York ini menjadi penyelenggara kontes menggambar Nabi Muhammad SAW di Texas.
Seperti diberitakan laman the Daily Beast, Geller merupakan aktivis sekaligus blogger yang sangat tidak senang Islam berkembang di Amerika. Untuk itu, dia bersama pria bernama Robert Spencer, mendirikan American Freedom Defense Initiative (AFDI) yang bertujuan menghentikan Islamisasi di Amerika.
Geller pernah bekerja di New York Daily News pada tahun 1980-an. “Kariernya” sebagai aktivis pembenci Islam mulai moncer pada tahun 2009-2010.
Pada periode tersebut, ia pernah membuat tulisan kontroversial melalui blog-nya yang menyebut bahwa Presiden Obama merupakan pemeluk rahasia agama Islam yang ingin menghancurkan Amerika Serikat.
Dia juga menjadi pemimpin gerakan untuk mencegah berdirinya Masjid. Termasuk juga mushola di perkantoran. Seperti diketahui, Geller menggelar lomba menggambar nabi Muhammad di Texas, Ahad (3/5). Acara yang akhirnya dibubarkan tersebut, disebut-sebut sebagai pembalasan terhadap penyerangan kantor Charlie Hebdo di Prancis.
Geller menawarkan hadiah 10 ribu dolar bagi pemenangnya. Geller menggelar pameran di tempat strategis, Garland, Texas, tempat di mana dia juga memimpin ribuan pengunjuk rasa konferensi Muslim Amerika yang digelar beberapa waktu lalu.
Berkat beberapa aksinya menebar kebencian terhadap Islam, Gellar bahkan juga dijuluki sebagai “Ratu” anti-Islam. Namun Ratu Anti-Islam ini sebenarnya bodoh disebabkan dia tidak tahu sejarah jika Amerika sebelum Colombus datang, sudah menjadi negeri yang banyak dihuni mayoritas Muslimin. Andai saja dia sedikit cerdas untuk bisa membaca diary Colombus, maka Pamela akan tahu jika Amerika itu justeru negeri Muslim jauh sebelum kedatangan orang-orang kafir di benua besar ini. Silakan baca Amerika Negeri Muslim Yang Hilang.
Read more ...

Umat Islam Mayoritas Tetapi Masih Minoritas Secara Kualitas


Hidayatullah.com- Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Adnin Armas merasa prihatin terhadap kondisi umat Islam di Indonesia saat ini. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang jumlah penduduknya mayoritas muslim, tetapi secara kualitas justru minoritas (sedikit, red).
“Ironis, umat Islam itu mayoritas secara angka tetapi minoritas secara kualitas,” kata Adnin saat memberikan tausyiah dalam acara tabligh akbar bertajuk “Untuk Indonesia yang Lebih Beradab” di Ruang Utama Masjid Raya Pondok Indah Jakarta Selatan, belum lama ini.
Adnin mengungkapkan terkait dengan kenyataan yang ada, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai sekitar 80 persen. Namun, jumlah tersebut tidak diikuti dengan kualitas. Akibatnya umat Islam tertinggal di berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya.
“Jika umat terbaik seperti yang ada dalam al-Quran, tetapi mengapa kita secara politik tertolak, secara ekonomi tertinggal jauh, dan secara budaya krisis identitas. Saat ini banyak anak-anak Muslim yang kebarat-baratan,” imbuh Adnin.
Lebih lanjut lagi, Adnin memaparkan jika umat Islam pernah mengalami masa kejayaan di zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam dan para sahabatnya. Meskipun, lanjutnya, jumlah umat Islam saat itu tidak terlalu banyak.
“Tetapi, saat ini umat Islam justru menjadi minoritas meskipun jumlahnya mayoritas,” tegas Adnin.
Menurut Adnin zaman dahulu (zaman Rasulullah, red) umat Islam dapat meraih kejayaan hingga digelari sebagai umat yang terbaik karena umat Islam (para sahabat, red) saat itu mau mempersembahkan kehidupan (apa yang mereka miliki, red) untuk Islam.
“Berbanding terbalik dengan kondisi kita saat ini, banyak dari aktivitas kita yang tidak dipersembahkan untuk agama Allah ini (Islam, red),” ungkap Adnin.
Karena perilaku umat Islam yang demikian, baik dalam wilayah Nusantara maupun secara global. Maka, menurut Adnin, yang akhirnya menjadikan kemuliaan hidup jauh dari umat Islam itu sendiri
Read more ...

Minggu, 03 Mei 2015

Matematika Dasar Sedekah


MATEMATIKA dasar ga cuman ada di pelajaran SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah sekalipun. Dalam sedekah juga ada matematika dasarnya. Hebat kan Allah ini. He… he… he
Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Kenapa matematikanya begitu?
Matematika pengurangan dari mana?
Kok ketika dikurangi hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10 – 1= 9?
Inilah kiranya matematika sedekah. Di mana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas adalah matematika sederhana yang diambil dari QS. Al-An’aam ayat 160 ketika Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.
مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”  (QS: Al-An’am Ayat: 160)
Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya bukan 9, melainkan 19. Sebab yang satu yang keluarkan dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.
Hasil akhir atau jumlah akhir bagi mereka yang mau bersedekah tentu akan lebih banyak lagi, tergantung kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih sekadar sepuluh kali lipat.
Tinggalah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu apa bentuknya. Bukalah mata hati dan kembangkan ke-husnudzdzan atau positif thinking kepada Allah, bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita
Read more ...

Siswi Muslimah Perancis Kecam Larangan Rok Panjang


AntiLiberalNews – Merespons larangan mengenakan rok panjang di sekolah dengan alasan “terlalu relijius”, salah satu korban telah melontarkan kecaman atas aturan semena-mena itu.
Itu bukan alasan yang sah untuk menangguhkansaya,” kata Sarah, siswi Muslimah di SMP Leo-Lagrange, Charleville-Mezieres, Perancis utara, seperti dikutip World Bulletin pada Jumat (1/5).
Rok (yang saya pakai) ini hanyalah sebuah gaya berpakaianbukan tanda (relijius) yang mencolok,” tambahnya.
Saya percaya saya diskors karena administrasi sekolah tahu saya memakai hijab di luar,” ungkap Sarah menyiratkan bahwa pihak sekolah telah melarangnya berhijab sebelumnya.
Mengapa gadis-gadis lain yang nonMuslim tapi memakai rok panjang diperbolehkan masuk?” tanyanya heran.
Read more ...

Sempat Murtad, Sekeluarga di India Kembali Masuk Islam


AntiLiberalNews – Sekeluarga asal India di kota Agra, negara bagian Uttar Pradesh, telah kembali ke ajaran Islam. Keputusan tersebut mereka ambil beberapa bulan setelah ditipu oleh pendeta Hindu yang memurtadkan mereka dalam kampanye‘ghar wapsi’, atau ‘pulang ke rumah’.
“Hakim Syariah telah berkonsultasi dengan pemimpin senior Muslim lainnya di desa dan upacara Syahadat ulang diselenggarakan setelah Shalat Ashar pada hari Jumat,” kata Kale Khan, seorang warga, kepada The Times of India seperti dilansir On Islam pada Ahad (3/5).
Sebelumnya pada Desember lalu, keluarga beranggotakan 17 orang itu dimurtadkan ke Hindu selama kampanye ‘ghar wapsi‘, setelah dijanjikan pekerjaan dan tanah.
Menyadari bahwa mereka telah ditipu, para anggota keluarga pun memutuskan untuk kembali memeluk Islam.
Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG