Breaking News

Sabtu, 29 Agustus 2015

Imam As Syafi’i Malu Ketika Tak Bisa Memberi untuk Peminta

IMAM AS SYAFI’I pada suatu saat berjalanan dengan tunggangannya. Di saat yang bersamaan datanglah peminta. Rasa malu tidak bisa disembunyikan dari wajah Imam As Syafi’i ketika ia tidak bisa memberikan kebutuhan si peminta.
“Dimana engkau tinggal, agar aku bisa memberikan kabutuhanmu itu?” Tanya As Syafi’i kepada si peminta.
Setelah si peminta member tahu latak rumahnya, Imam As Syafi’i pun kembali ke rumahnya untuk mengambil apa yang dibutuhkan si peminta lalu mengirimnya ke rumahnya.* (lihat, Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/235)
Read more ...

Jadikan Tahlilan Sebagai Barometer Pancasilais adalah Pemikiran Sempit

Tahlilan adalah khilafiyah. Dan menjadikan masalah khilafiyah sebagai kriteria pancasilais adalah sikap yang justru tidak pancasilais


“Ucapan Dr Aqil Siraj yang menyatakan jika anti tahlilan berarti pancasilanya diragukan menunjukkan pikirannya yang sempit,” tegas Adnin dalam rilisnya yang diterima hidayatullah.com,Sabtu (29/08/2015) pagi.
Pernyataan Adnin ini disampaikan guna menanggapi pemberitaan sebelulumnya,  dalam acara halaqah kebangsaan bertema “Pancasila Rumah Kita: Perbedaan adalah Rahmat” di Aula Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Dalam halaqah itu, Saiq Aqil sempat mengatakan bahwa orang yang tahlilan pancasilanyamantap, sedang yang anti tahlilandiragukan. 
Menurut Adnin, pernyataan seperti itu hanya akan melukai hati bangsa Indonesia yang tidak mengamalkan tahlilan. Sebab, lanjutnya, banyak warga negara Indonesia yang tergabung dalam berbagai ormas seperti Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, Dewan Da’wah dan sebagainya yang tidak mengamalkan tahlilan.
Adnin menyebutkan bahwa banyak tokoh umat Islam baik itu yang dahulu maupun sekarang, yang tidak diragukan perjuangannya pada Indonesiaan tetapi mereka sekaligus tidak mengamalkan tahlilan.
“Misalnya, tokoh-tokoh bangsa dari Muhammadiyah termasuk yang merumuskan Pancasila adalah tokoh tokoh yang tidak mengamalkan tahlilan,” kata Adnin.
Ia menyebut beberapa nama pejuang kemerdekaan yang mayoritas adalah ulama dari Muhammadiyah.  Ia mencontohkan, Prof Dr Mr Raden Kasman Singodimejo, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir yang terlibat langsung dalam Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junby Cosakai/BPUPKI).
Menurutnya, sispa yang berani meragukan nama-nama ini dalam pembelaan pada Negara dan Bangsa?
Lebih lanjut, menurut Adnin,  masalah tahlilan adalah khilafiyah. Dan menjadikan masalahkhilafiyah sebagai kriteria pancasilais adalah sikap yang justru tidak pancasilais.
“Aqil tidak bijak menjadikan tahlilan sebagai barometer pancasilais,” pungkas Adnin
.
Read more ...

Empat Adab dalam Menuntut Ilmu

Ulama bernama Sahnun berkata: "Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan"



ADAB mencari ilmu selama ini sering diabaikan. Hubungan antara murid dan guru tak ubahnya penjual dan pembeli. Si murid merasa telah membayar SPP dan uang gedung dengan nilai nominal yang tidak murah sehingga penghormatan kepada guru dianggap sebagai hal yang bukan acuan utama.
Kini, saatnya kita kembali mendulang adab-adab mencari ilmu yang telah dipanggungkan oleh para ulama sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya pada tataran duniawi, namun juga pada tataran ukhrawi.
Habib Zain bin Ibrahim bin Sumait dengan ketajaman analisa dan penanya, mementaskan empat adab bagi pencari ilmu.
Adab pertama bagi seorang pencari ilmu ialah menyucikan hati dari segala pelanggaran-pelanggaran yang dimurkai Allah.
Adab pertama ini memberi gambaran kepada kita bahwa sebelum memulai aktivitasnya, terlebih dahulu seorang pencari ilmu mengevaluasi kondisi hati. Adakah penyakit hati yang masih mengendap dalam dirinya sehingga ia harus membersihkannya terlebih dahulu?
Imam Nawawi dalam mukaddimhn Syarh Al-Muhadzdzab berkata: “Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu menyucikan hatinya dari kotoran-kotoran sehingga ia layak menerima ilmu, menghafal, dan memanfaatkannya.”
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad memberi perumpaan yang sungguh indah tentang hati yang kotor. Beliau mengatakan, “Jika seseorang datang dengan membawa sebuah wadah kotor untuk diisi madu di dalamnya, maka orang yang akan membeli madu tersebut pasti akan berkata, Cucilah terlebih dahulu wadah yang kotor ini, baru kamu isi dengan madu.”
Kata Imam Abdullah, “Dalam masalah dunia saja, wadah yang kotor perlu dibersihkan, maka bagaimana dapat rahasia-rahasia ilmu Allah itu justru diletakkan di dalam hati-hati yang dekil?”
Pada satu kesempatan, Imam Malik memberi nasihat kepada muridnya Imam Syafi`i. Kala itu, Sang Guru merasa takjub dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Syafi`i. Nasihat tersebut bunyinya, “Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Jauhilah maksiat. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah meletakkan cahaya di dalam hatimu maka janganlah kamu padamkan dengan maksiat-maksiat kepada-Nya.”
Adab pertama ini merupakan langkah awal bagi para pencari ilmu, tak terkecuali para guru, untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang malah menjadi penghalang masuknya ilmu dalam sanubari.
Ilmu tidak terletak pada ijazah, raport, dan gelar akademik semata, tapi pada manfaat dan amal sebagai buahnya ilmu. Dan, itu tak akan mungkin terwujud tanpa hati yang bersih.
Adab kedua, menurut Habib Zain, adalah ikhlas karena Allah di dalam mencari ilmu. Seseorang tidak diperkenankan mencari ilmu dengan kemuliaan diri yang melekat. Seorang pencari ilmu mesti ikhlas karena Allah. Dengan modal ikhlas tersebut, ia berusaha membuat hati gurunya ridha mengangkat dan mengakui sebagai murid setianya.
Suatu hari, Abdullah bin Abbas membawa tali pengikat kendaraan gurunya Ubay bin Ka`ab. Ia tuntun kendaraan gurunya itu. Sang guru bertanya, “Ada apa ini, wahai putra Abbas?” Dijawab, “Demikianlah kami diperintahkan untuk menghormati guru-guru kami.” Abdullah tetap memandu jalannya kendaraan sang guru sampai ke tempat tujuan.
Sufyan bin Uyainah berkata, “Saat aku berusia empat tahun, aku telah dapat membaca Al-Qur`an. Saat berusia tujuh tahun, aku telah dapat menulis hadits. Saat berusia lima belas tahun, ayahku berkata kepadaku:
‘Wahai anakku, sekarang engkau telah beranjak dewasa. Maka lakukanlah kebaikan niscaya engkau akan termasuk sebagai ahli kebaikan. Ketahuilah, seseorang tidak akan diberi kebahagiaan berkumpul dengan para ulama kecuali orang yang taat kepada mereka. Maka taatilah para ulama, niscaya engkau akan memperoleh kebahagiaan. Berkhidmatlah kepada mereka, pasti engkau akan mendapatkan ilmu mereka.’
Kata Sufyan, “Sejak mendengar nasihat ayahku tersebut, aku selalu condong kepada para ulama, tidak berpaling sedikitpun dari mereka.”
Adab kedua memberi pengertian bahwa pencari ilmu mesti menanggalkan kebanggaan nasab, kedudukan, dan harta yang ia miliki. Ia lepaskan demi terjun secara total meraih ilmu lewat para guru dan ulama dengan penuh keihlasan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Adab ketiga yang harus ada pada diri penuntut ilmu adalah mengambil faedah (manfaat) di mana saja berada. Pencari ilmu mesti jeli melihat, mengamati, dan meraih manfaat dari tiap jengkal langkah hidupnya. Tidaklah berlalu sesaat dari umurnya, kecuali ia isi dengan kemanfaatan.
Abu Al-Bakhtary berkata: “Duduk bersama suatu kaum yang lebih mempunyai ilmu daripada saya, lebih saya sukai tinimbang bersama kaum yang derajat ilmunya di bawah diriku” Mengapa? Jawabnya, “Karena, jika aku duduk bersama kaum yang derajat pengetahuannya di bawahku, aku tidak bisa mengambil manfaat. Namun jika aku duduk bersama orang-orang yang lebih berilmu dari diri saya ini, aku bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.”
Adab keempat yang disebutkan oleh Habib Zain adalah bersikap sederhana dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Makan dan minum adalah kebiasaan siapa saja. Manusia makan dan minum untuk hidup. Namun hal demikian tidak lantas menjadi alasan untuk berlebih-lebihan, khususnya bagi pencari ilmu.
Bahkan, seorang ulama bernama Sahnun berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan.”
Dalam wasiat penuh hikmah dari Lukman Al-Hakim kepada putranya, ia berkata: “Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh pikiran akan tertidur, hikmah akan berhenti mengalir, dan badan akan lumpuh dari beribadah.”
Imam Syafi`i berkata, “Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam. Karena kekenyangan itu membebani badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membuat kantuk, dan melemahkan orang tersebut dari beribadah.”
Demikianlah empat etika yang dipaparkan oleh Habib Zain seputar adab bagi manusia-manusia yang menceburkan dirinya dalam lautan ilmu. Ambillah ilmu yang hendak kita miliki sebanyak-banyaknya namun janganlah kita absen dari adab. Dengan empat adab tersebut, ilmu menjadi berkah untuk semua
Read more ...

Selasa, 18 Agustus 2015

18 Agustus 1945, Sehari Setelah Proklamasi, Umat Islam Dikhianati


Umat Islam di negeri ini tak akan pernah lupa, betapa politik kaum sekular begitu khianat dengan menelikung kesepakatan luhur (gentlement agreement), Piagam Jakarta. Sehari paska kemerdekaan, lobi-lobi politik kelompok sekular dan Kristen berhasil menghapuskan sebuah tonggak sejarah bagi penegakan syariat Islam di negeri ini.
Tgk Daud Beureueh
Ya, hanya sehari pasca proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri, tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa ini pada 22 Juni 1945, yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dihapuskan oleh tipu licik kelompok yang tidak menginginkan syariat Islam tegak di negeri ini.
Inilah tragedi besar dalam sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, yang pada masa revolusi fisik berjuang dan bercita-cita, jika nanti negeri ini merdeka, mereka menginginkan kemerdekaan ini dilandaskan pada sistem Islam. Tak heran jika, Haji Agus Salim, tokoh nasional bangsa ini, dengan lantang dan tegas mengatakan, cita-cita kemerdekaan bangsa ini adalah kemerdekaan dalam bingkai dan semangat keislaman.
Apakah ini sebuah cita-cita yang berlebihan? Silakan bentangkan fakta-fakta sejarah dengan kejujuran, siapa sesungguhnya yang lebih banyak berjuang dan menggerakkan perlawanan dalam mengusir penjajah?  Siapa yang merekatkan tali persatuan dalam menggelorakan semangat perjuangan mengusir bangsa asing yang datang merampas kekayaan negeri ini?
Inilah bentangan fakta-fakta sejarah yang bisa menjawab pertanyaan tersebut…
Perlawanan umat Islam misalnya bisa dilihat dalam perjuangan yang dilakukan KH Zainal Musthafa di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kiai Subki di Wonosobo, Imam Bonjol di Sumetera Barat (1821-1837), Pangeran Diponegoro (1825-1830), Perang Sabil di Aceh (1837-1904), serta perlawanan para sultan dari kerajaan-kerajaan Islam yang mengerahkan pasukannya untuk mengusir penjajah. Semua perang yang terjadi bersukma dari seruan jihad, dengan motor penggerak para pejuang Islam.
Perang Sabil yang berlangsung di Aceh, dan digerakkan oleh Teungku Cik Di Tiro, Tengku Umar dan Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1904 misalnya, adalah jihad melawan apa yang disebut oleh mereka sebagai kape-kape(kafir-kafir) Belanda. Perlawanan sengit yang dalam catatan sejarah terekam dalam hikayat perang Sabil itu mampu menjadikan Aceh sebagai daerah yang sulit ditaklukkan oleh penjajah.
Dr Mohammad Natsir
Saat kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah bertekuk lutut pada bangsa kolonial, yaitu Inggris, Portugis, dan Belanda, daerah berjuluk Serambi Mekkah itu justru sulit ditaklukkan hingga akhir abad ke-18. Ruhul jihad rakyat Aceh yang tangguh menggema hingga pelosok Nusantara.
Pada masa selanjutnya, para ulama Aceh, di antaranya Tengku Muhammad Daud Beureueh, terus menggelorakan semangat jihad melawan penjajah. Daud Beureueh menyebut perlawanannya sebagai “perang Aceh dalam bentuk baru”, dengan terlebih dahulu menyiapkan kader-kader pejuang yang sebelumnya digambleng dalam pusat-pusat pendidikan Islam (dayah).
Dari dayah inilah lahir pejuang-pejuang tangguh yang berperan aktif mengusir penjajah, baik menjelang pendudukan militer Jepang, maupun pada masa revolusi tahun 1945.
Tengku Daud Beureueh yang juga tokoh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), mengorganisir gerakan bawah tanah untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda di seluruh pelosok Tanah Rencong. Maka, pada tahun 1942, pecah perlawanan di beberapa wilayah Aceh yang dimotori para ulama, hingga seluruh tentara Belanda hengkang dari tanah Aceh.
Selain itu, semangat untuk mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta,  juga terus diserukan oleh para ulama di Serambi Makkah.
Buya HAMKA saat masih muda
Pada  15 Oktober 1945, seruan untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang berusaha merebut Pangkalan Brandan di Sumatera Utara, bergema di Aceh. Para ulama yang terdiri dari Tengku Haji Hassan Krueng Kalee, Tengku Haji Muhammad Daud Beureueh, Tengku Haji Jakfar Shiddiq Lamjabat, dan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, mengeluarkan seruan jihad kepada rakyat Aceh untuk berjuang mengangkat senjata melawan penjajah.
H Agus Salim
Berikut isi seruan para ulama tersebut:
“…Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan Soekarno. Belanda adalah satu kerajaan kecil serta miskin. Satu  negeri yang kecilnya, lebih kecil dari negeri Aceh yang hancur lebur. Mereka telah bertindak melakukan pengkhianatan kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka untuk dijajah kembali. Kalau maksud jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas segala harta benda negara dan harta rakyat, dan segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah. Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia dan menjalankan usaha untuk menghapus Islam kita yang suci serta menindas dan menghambat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Menurut keyakinan kami, perang ini adalah perjuangan suci yang disebut ‘Perang Sabil’…”
Selain di Aceh, kontribusi dan pengorbanan umat Islam juga menjadi spirit kemerdekaan di beberapa daerah lain di tanah air. Dalam catatan sejarawan Muslim, Ahmad Mansyur Suryanegara, proklamasi Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945, dan bertepatan dengan 19 Ramadhan 1364 H, juga tak lepas dari dorongan para ulama kepada Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Mansyur, sebelum memproklamasikan kemerdekaan, Bung Karno menemui para ulama, di antaranya para ulama di Cianjur Selatan, KH Abdul Mukti dari Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama.
Tapi apa mau dikata, air susu dibalas air tuba. Piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi kaum Muslimin di negeri ini, dihapuskan sehari setelah proklamasi. Padahal, menurut keterangan Jenderal Abdul Haris Nasution, Piagam Jakarta lahir di antaranya berdasarkan dorongan dari ratusan ulama yang menginginkan umat Islam hidup diatur dengan syariat Islam.
Jenderal Besar AH Nasution
Karena itu, Jenderal Besar AH Nasution pernah menyatakan, “Dengan hikmah Piagam Jakarta itu pulalah selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur…”
Inilah pengkhianatan yang sungguh memilukan bagi umat Islam. Allahyarham Dr Mohammad Natsir menyatakan, tanggal 17 Agustus 1945 kita bertahmid, mengucap syukur karena negeri ini telah diberi kemerdekaan atas rahmat Allah SWT. Namun, sehari setelah itu, kata Natsir, umat Islam beristighfar, karena perjuangannya selama ini dikhianati.
Bahkan, dengan kalimat yang lebih tegas, Allahyarham Buya Hamka pernah menyatakan, “Mari kita berpahit-pahit, kaum Muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”
Jadi, mari kita kembalikan Indonesia pada dasar Islam, pada semangat dan perjuangan menegakkan Islam!
Read more ...

KAPANKAH, ORANG TUA HARUS BERKATA TIDAK?


Tidak seharusnya semua keinginan anak harus dituruti, apalagi jika keinginan tersebut tidak memiliki manfaat sama sekali. Tapi sebagai orang tua, terkadang merasa kasihan jika melihat buah hatinya menangis meminta sesuatu.
Ketahuilah para orang tua, kita haruslah menanamkan suatu nilai kehidupan yang sangat berarti untuk dia. Yaitu, bahwa semua yang dia inginkan tak selamnya bisa dia dapatkan. Oleh karena itu, ada kalanya harus bilang tidak! Terus kapan harus bilang seperti itu?
Meskipun begitu, para orang tua juga jangan sampai merampas hak anak. Misalkan, jangan katakan ‘tidak’ ketika anak meminta sesuatu yang sudah menjadi haknya. Contoh, anak yang meminta untuk bermain setelah dia selesai mengerjakan PR, karena bermain adalah hak mereka dan sebagai orang tua kita tidak boleh melarangnya. Lain halnya jika dia meminta untuk dibelikan mainan, padahal baru minggu yang lalu dibelikan. Disinilah, kita harus berkata ‘tidak’ sambil menjelaskan padanya kenapa dia tidak bisa mendapatkannya.
Penjelasan tersebut bertujuan agar dia paham bahwa penolakan yang kita lakukan tersebut bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli dengan mereka. Selain itu juga, berusahalah untuk menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat untuk menunjang proses belajarnya.
Perlu diingat juga bahwasanya lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan psikologi anak. Jadi, selalu nasehati anak-anak kita untuk memilih teman bergaul yang berakhlak baik. Intinya selalu kontrol serta biasakan mereka untuk mau bercerita tentang kegiatan yang dilaluinya. Oleh karena itu, kita juga harus bisa berperan sebagai sahabatnya.
Demikian, semoga bermanfaat.
Read more ...

4 Amalan Yang Bisa Buang Kesedihan


SEDIH merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satupun manusia bisa lepas dari kepedihan, termasuk para Nabi dan Rasul. Semua hampir bisa dipastikan pernah mengalami yang namanya lara.
Nabi Ya’kub sampai kehilangan penglihatan karena menahan amarah kepada saudara Nabi Yusuf dan kepedihan karena kehilangan Nabi Yusuf Alayhissalam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam pun tak sanggup untuk tidak bermuram durja kala kehilangan istri dan paman tercintanya, Abu Tholib.
Namun demikian kesedihan Nabi dan Rasul tidak melampaui batas, sehingga kepedihan tidak melemahkan iman. Namun, masih ada sebagian dari umat Islam yang belum memahami batas-batas kesedihan, sehingga sebagian larut dalam kegundahan sampai-sampai ada yang berubah sikap dan karakter secara signifikan bersebab kepedihan yang diturutkan.
Biasanya, yang mengalami keadaan seperti itu adalah mereka yang gersang jiwanya, lemah agamanya dan minim pengetahuannya, tetapi besar harapan dan angan-angannya, sehingga kala apa yang sangat dicintainya hilang, ia seperti tak punya pegangan. Ada yang menjerit-jerit, stress bahkan gila dan putus asa, hingga bunuh diri.
Semua itu tidak lepas dari rasa cinta yang begitu besar terhadap selain Allah Ta’ala. Mulai dari kecintaan terhadap diri sendiri, harta dan tahta. Dan, orang yang sedih karena hal-hal tersebut tidak sedikit.
Oleh karena itu, penting bagi seorang Muslim mengerti bagaimana terbebas dari rasa cinta yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kesayuan tak tertahankan, yang jika tidak diwaspadai justru bisa mematikan iman.
Pertama, pelihara dan perkuat iman
Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).
Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa, bagi orang-orang yang beriman diberikan kesudahan yang baik dan pertolongan dari Allah.
Seperti apa yang Allah berikan kepada Nabi Yusuf Alayhissalam, kala beliau mesti mengalami takdir terpisah dari ayah, keluarga dan kampung halamannya dalam kurun yang begitu lama, dengan bekal iman, akhirnya Allah pertemukan Nabi Yusuf kembali dengan ayah dan keluarganya dalam keadaan yang kuat lagi bermartabat, baik di sisi manusia dan di sisi Allah.
Bagaimana Nabi Yusuf menjaga dan mempertangguh keimanannya, bisa kita lihat pada keteguhan hatinya dalam mengedepankan iman.
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf [12]: 33).
Dengan kata lain, iman akan menghindarkan seorang Muslim dari kebodohan dan kesedihan yang tidak beralasan, sehingga hidupnya, meski secara kasat mata tampak tidak bahagia, hakikatnya hatinya teguh, perkasa dan optimis akan pertolongan-Nya.
Kedua, istiqomah
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat [41]: 30).
Ibn Katsir menjelaskan, ayat tersebut menghendaki agar umat Islam memurnikan amal untuk Allah dan beramal karena taat kepada Allah Ta’ala atas apa yang disyari’atkan-Nya kepada mereka (sepanjang hayat).
Dalam konteks operasionalnya setiap 24 jam, tentu umat Islam mesti konsisten dalam mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat, dan beramal sholeh (QS. Al-Baqarah: 277) dalam segala situasi dan kondisi. Sebab, pada akhirnya, kabar gembira berupa surga akan Allah berikan kepada siapa saja dari umat Islam yang benar-benar istiqomah.
Ketiga, dekat dengan Al-Qur’an
قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS: Al-Baqarah [2]: 38).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat itu memerintahkan agar umat Islam benar-benar dekat dan akrab dengan Al-Qur’an disertai komitmen meneladani Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam. Dengan seperti itu, setiap diri dari umat ini akan terberbas dari kesedihan karena urusan dunia yang luput dari tangannya.
Sungguh tidak mengherankan jika para sahabat dan ulama terdahulu begitu cinta dan bangga membaca, mengkaji dan mengamalkan Al-Qur’an.
Keempat, ittiba’ Rasulullah Shallalahu Alayhi Wasallam
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS:  Al-A’raaf [7]: 35).
Makna khusus ayat tersebut tentu berlaku kepada umat Islam, yang sudah semestinya dalam hidupnya mesti ittiba’ (mengikuti) Rasulullah dalam segala situasi dan kondisi. Adapun implementasinya adalah bagaimana setiap Muslim senantiasa bertakwa dan tidak melakukan apapun melainkan perbaikan demi perbaikan bagi umat, rakyat, bangsa, agama dan negara, sebagaimana yang telah Rasulullah teladankan.
Empat amalan dalam uraian ini adalah sebagian dari makna-makna dan panduan yang gamblang dari Al-Qur’an agar setiap Muslim terbebas dari kesedihan yang kontraproduktif. Andaikata pun sedih itu merasuk dalam hati karena alasan yang fitrah, tentu setelah kesedihan itu akan semakin menguatkan keimanan, sehingga hidup akan semakin progressif dalam iman dan takwa, bukan malah retrogressif. Wallahu a’lam
Read more ...

Minggu, 16 Agustus 2015

Inilah Doa Lengkap KH. Choirul Muna di MPR Yang Bikin Setan Kepanasan


Dalam sidang Paripurna MPR 2015 pada Jumat lalu (13/5), anggota DPR dari Fraksi Partai Nasdem, KH Choirul Muna, diberi amanah untuk memimpin doa. Sampai sekarang, doa yang dibawakan kiai muda itu masih hangat dibicarakan oleh banyak kalangan, baik dalam percakapan di dunia nyata maupun di dunia maya internet. Banyak yang memuji isi doa tersebut, tapi juga banyak yang tampaknya “kepanasan” dengan isi doa itu.

Doa itu sendiri berisi permintaan-permintaan yang baik demi kemajuan bangsa dan negara ini. Jadi, kalau ada yang “kepanasan” dengan isi doa yang baik itu tentulah setan. Bukankah setan tidak menyukai kebaikan yang dibuat anak manusia? Demikian yang dilansir pribuminews. Berikut isi lengkap doa tersebut.
Bissmillahirrahmannirrahiim, alhamdulillahi rabbilalamin…. Ya, Allah, ya, Wahid, Tuhan yang Maha Esa, segala puji dan syukur ke hadirat-Mu. Tiada henti kami panjatkan syukur atas segala nikmat dan inayah-Mu.
Ya, Allah, anugerahkan kami taufik dan hidayah agar selalu mengabdi kepada-Mu. Tuntunlah kami ke dalam akhlak mulia dan jauhkan kami dari sikap pongah dan zolim yang menyebabkan murka-Mu.
 Ya, Allah, memasuki usia Republik Indonesia yang ke-70 tahu, kami menundukkan kepala dan berdoa atas segala rahmat dan anugrah-MU, ya, Allah.
Ya, Allah, ya, Rahman, ya, Rahiim, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di hari-hari ini, kami menghadapi beragam ujian berat, mulai dari alam yang kurang bersahabat, kekeringan di mana-mana, harga kebutuhan pokok yang masih melangit, ekonomi yang belum pulih, hingga penegakan hukum yang mencederai rasa keadilan rakyat. Sungguhpun begitu, segelintir penguasa masih acuh tak acuh, tak peduli kesengsaraan rakyat, sehingga rakyat semakin berang, jengkel, dan galau. Karena, mereka tak memberikan suri teladan.
Ya, Allah, ya, Hayul, ya, Qoyum, Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Mandiri. Anugerahkanlah kekuatan lahir dan bathin kepada rakyat Indonesia untuk tabah dan  tegar dalam menghadapi cobaan dan ampunilah segala dosa-dosa kami. Berikanlan ketabahan dan rasa optimisme bahwa cepat atau lambat Indonesia semakin jaya, adil, makmur, aman, dan sentosa.
Ya, Allah, ya, Fattah, Tuhan yang Maha Pembuka. Bukalah pintu hati pemimpin kami agar mereka selalu amanah dan bertanggung jawab atas segala tugas yang diembannya. Bukakanlah selalu hati pemimpin kami, agar pada setiap embusan napas mereka hanya memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat yang sangat letih menghadapi kesulitan hidup kesehariannya.
Ya, Allah, ya, Barii, Tuhan yang Maha Membebaskan. Bebaskanlah kami dari berita-berita bohong, janji-jani palsu, dan harapan-harapan kosong, karena sesungguhnya tidaklah elok mereka memanipulasi dan menipu rakyat yang menderita, sengsara, dan hampir berputus asa.
Ya, Allah, ya, Malikul Mulk, Tuhan yang Merajai Segala Raja. Jangan biarkan kami terpecah-belah dan saling memusihi. Karena, tanpa disadari, kami telah menjadi alat segelintir manusia yang tak ingin melihat bangsa kami bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, berkonstitusi Undang-Undang Dasar 1945, hidup rukun, dan memiliki rasa toleransi serta mampu memaafkan sesamanya di lingkungan Bhinneka Tunggal Ika.
Ya, Allah, ya, Sobur, Tuhan yang Maha Sabar. Hanya kepada-Mu, kami berserah total, pasrah menerima cobaan dan karunia-Mu, ya, Allah.
Ya, Allah, sudah lama rakyat kami bersabar, meskipun mereka miskin harta, tapi kaya jiwa, sehingga mampu memafkan mereka yang menyengsarakan hidupnya.
Ya, Allah, jadikanlah rakyat Indonesia berada pada negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrrem kerto raharjo.
Ya, Allah, ya, Ghofur, Tuhan yang Maha Memaafkan. Berikanlah kami pemimpin sejati, yang satu kata dengan perbuatan dan yang insyaf dan ingin tobat. Karena, sesungguhnya Engka Maha Penerima Taubat. Anugerahkanlah pemimpin-pemimpin kami agar senantiasa memiliki kepekaan dan kesalehan sosial, kewarasan pikiran, dan kebeningan hati nurani. Jangan biarkan mereka tersesat melakukan korupsi, suatu perbuatan tercela, terhina, dan begelimang KKN hingga mereka mabok kepayang, riya, takabur, dan pamer kuasa.
Tuhan yang Maha Kuasa, sirami hati nurani mereka untuk terus bermuhasabah, mengoreksi diri sendiri, dan hendaknya selalu peduli pada derita insani Indonesia.
Ya, Allah, tumbuhkanlah kesadaran kolektif di sidang tahunan MPR RI yg mulia ini, agar kami lebih sadar, insyaf,dan tetap rendah hati menjadi hamba-Mu, ya, Allah, dan selalu siap memperjuangkan nasib rakya Indonesia.
Ya, Allah, semoga kami termasuk golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu dan dijauhi dari siksa api neraka.
Allahummaj ‘alni baldatana Indonisia, baldatan wa amilatan muthmainnatan thoyibatan rohhiyatan….Aamii
n
Read more ...

Kamis, 13 Agustus 2015

Kisah Mualaf Theresa Carter: Hijab Membuatku Jadi Diri Sendiri


Sebelumnya, aku tak pernah berbagi kisah tentang proses berislamku ini. Meskipun sudah 10 tahun berislam, rasanya aku masih merasa baru. Itu karena di tahun-tahun awal, aku tak begitu paham Islam dengan baik. Akhir-akhir ini saja aku mengenal Islam dengan baik dan merasa damai serta utuh menjadi muslimah. Alhamdulillah.
Aku mengenal Islam di tahun kedua kuliah. Saat itu ada laki-laki yang sangat berbakat dari Lebanon di kelas seni. Apapun yang dia gambar selalu indah dan terlihat keluar begitu saja dari dalam dirinya. Karena aku sangat menyukai seni dan keindahan yang dihadirkannya, laki-laki ini berhasil membuatku penasaran.
Saat itu aku adalah seorang Katolik yang taat. Hingga setahun kemudian, aku baru tahu kalau laki-laki yang kukagumi ini beragama Islam. Tapi latar belakang agama yang berbeda tak menghalangi kami untuk menjalin pertemanan. Bahkan diperkenalkannya aku kepada keluarganya. Menurutnya, aku adalah teman perempuan pertama yang dibawanya ke rumah. Semakin aku paham Islam, ternyata hubungan laki-laki dan perempuan itu sebetulnya tidak boleh saling ‘berteman’ seperti ini apalagi sampai pacaran. Ini betul-betul hal baru bagiku.
...Semakin aku paham Islam, ternyata hubungan laki-laki dan perempuan itu sebetulnya tidak boleh saling ‘berteman’ seperti ini apalagi sampai pacaran...
Dari laki-laki ini juga aku mengenal Islam lebih dalam. Dia bahkan merekam aktivitasnya ketika salat dan diberikannya kepadaku untuk kutirukan di rumah. Seiring dengan mengajariku Islam, pemahaman dia tentang Islam sendiri juga makin bertambah sehingga dia sendiri juga makin relijius. Aku pun belajar Islam dari video, dari buku tentang tata cara belajar salat baik yang sudah diterjemahkan bahasa Inggris maupun yang transliterasi bahasa Arab, hingga mencoba salat sendiri. Aku juga mulai belajar berhijab dan memakai baju yang longgar.
Ketika aku mencoba melafalkan bacaan salat dalam bahasa Arab, tiba-tiba saja muncul gelombang damai dalam hatiku yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti alunan ombak yang tenang di tengah samudera. Dan ketika aku mulai mendirikan salat, terasa seperti ada gula di dalam tubuhku. Terasa manis sekali untuk dirasakan. Mungkin karena aku melakukan ini semua demi untuk mengenal Allah lebih jauh.
Dalam perjalananku berislam, aku bertemu dengan seorang muslimah bernama Esraa. Pertama kali aku berhijab, aku merasa sangat malu dan tidak nyaman hingga momen bertemu Esraa secara tak sengaja di tempat kerjanya (dia bekerja di salah satu tempat cuci-cetak foto). Kebetulan aku ke sana untuk mencuci-cetak fotoku. Saat itulah kulihat dia dengan hijabnya terlihat begitu cantik. Aku kagum dengan bagaimana dia memakai hijabnya dengan sederhana.
...Hijab itulah yang membuatku menjadi diri sendiri. Kepribadianku yang sederhana seolah terpancar cemerlang melalui hijab tersebut...

Meskipun pemalu, aku adalah tipe yang mudah sekali memuji orang lain apalagi bila memang dia layak mendapat pujian. Aku pun memuji Esraa dengan hijabnya tersebut. Ketika memutuskan untuk kembali ke Mesir, hijab itu diberikan Esraa padaku. Hijab itulah yang membuatku menjadi diri sendiri. Kepribadianku yang sederhana seolah terpancar cemerlang melalui hijab tersebut.
Aku dan Esraa pun berteman baik. Ayah Esraa mengajariku berbuka puasa dengan kurma dan susu. Beberapa kali mereka mengundangku untuk berbuka puasa bersama di tahun pertama aku mengenal Esraa.
Pengalamanku berikutnya adalah ketika aku melakukan perjalanan ke Dearborn Michigan di saat imanku sedang kokoh. Di sana, aku merasakan yang namanya keheningan yang bersahaja. Itu karena teman yang kukunjungi dan tempatku menginap adalah seorang muslimah yang memilih hidup tanpa musik. Dia mengajakku ke kajian-kajian, memberiku kamar pribadi lengkap dengan sajadah dan buku-buku keislaman. Di saat-saat inilah, aku merasa hubunganku dengan Allah begitu sangat dekat.
Sebagai seorang muslimah berhijab, aku masih sangat mencintai hidup dekat dengan alam. Saat ini aku berprofesi sebagai fotografer untuk acara nikahan dan instruktur Pilates. Aku mengajar perempuan dari semua kalangan. Kesehatan, kesejahteraan dan kedamaian dalam diri sangat penting bagiku. Setiap hari aku bersyukur pada Allah untuk jalan Islam yang telah diberikannya padaku. Terima kasih Allah, untuk semua keindahan yang telah Engkau ciptakan dan mengizinkan kami untuk menikmatinya sepuasnya. Alhamdulillah

Read more ...

Hina Islam, 2 Klub Raksasa Ceko Dihukum


Mereka mengibarkan poster anti Islam.
VIVA.co.id - Federasi Sepakbola Republik Ceko menjatuhkan hukuman kepada dua klub raksasa negara tersebut. Hal tersebut akibat ulah fans dari klub tersebut yang menghina agama Islam.
Seperti dilansir USA Today, Komite Disiplin telah menjatuhkan denda kepada Viktoria Plzen dan Jablonec. Kedua klub tersebut harus membayar denda masing-masing 100 ribu koruna atau $4,110.
Dalam laga melawan Bohemians Prague 1905, fans Jablonec mengibarkan sebuah poster kontroversial. Dalam poster tersebut terlihat sosok wanita yang bernama "Europe" menendang babi sambil mengenakan sorban.
Pihak kepolisian sedang mendalami kasus ini. Fans mereka rupanya terinspirasi oleh surat kabar satir Prancis, Charlie Hebdo.

Tindakan itu juga diikuti oleh fans Viktoria Plzen. Mereka mengibarkan poster serupa dalam laga melawan Slavia Praha.

Read more ...

Hasil Revolusi Mental, Menpora Bolehkan Judi Bola


Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi adalah menteri yang berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa, partai yang didirikan dan dibentuk oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Namun, di hadapan sivitas akademika Universitas Indonesia, Imam Nahrawi dengan gamblang mengatakan, dirinya tidak melarang adanya perjudian dalam permainan sepakbola, asalkan bukan untuk pengaturan skor pertandingan.
“Tidak melarang judi dalam sepakbola. Tapi, jangan dijadikan judi itu untuk mengatur skor,” ujar Imam Nahrawi dalam seminar dan diskusi nasional Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) di Balairung UI, Kamis (13/8) seperti ditulis pribuminews.
Pengaturan skor, tambahnya, memang hal yang sudah terjadi dalam pertandingan sepakbola dan harus dihentikan. Yang terpenting dalam suatu pertandingan adalah membawa semangat sportivitas, baik bagi pemain, sponsor, maupun operator. Adanya pengaturan skor pertandingan ini, lanjutnya, membikin kancah sepakbola Indonesia kian tidak terarah
Read more ...

Bendera Bulan Sabit Merah Dipermasalahkan, Bendera Zionis Israel Bebas Berkibaran


Polemik bendera Aceh terjadi, kendati pemerintah pusat dan Aceh sudah berulang kali berunding. Tokoh perdamaian Aceh, Pieter Feith terkait kontroversi bendera bulan bintang yang diadopsi dari simbol perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pun angkat bicara.
“Itu jelas di MoU (Helsinki) bahwa tidak bisa ada bendera yang sama seperti GAM dulu,” kata Pieter yang juga mantan ketua lembaga pemantau perdamaian atau Aceh Monitoring Mission (AMM) kepada wartawan di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Rabu (12/8/2015).
Dia mengaku sudah berdisikusi terkait polemik bendera.
“Ini harus segera diselesaikan karena itu bisa mengurangi rasa saling percaya (antara Aceh dan Jakarta),” ujar Pieter didampingi Juha Christensen, fasilitator perdamaian Aceh.
“Saya yakin masalah isu ini bisa selesai, dan hubungan (Aceh) dengan Jakarta bisa meningkat lagi,” pungkas diplomat Belanda yang kini bekerja untuk Uni Eropa itu.
Dalam MoU damai antara GAM dan pemerintah Indonesia yang diteken di Helsinki, Finlandia,15 Agustus 2005, Aceh dibolehkan memiliki bendera sendiri. Hal itu kembali ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Pemerintah Aceh kemudian menjadikan bendera bulan bintang dengan les hitam putih sebagai bendera Aceh. Bendera ini disahkan dalam Qanun Nomor 13 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Dari sinilah polemik muncul.
Pemerintah pusat menolak bendera tersebut karena mengadopsi simbol perjuangan GAM dan beraroma ‘separatis’. Sementara Aceh masih ngotot mempertahankan bendera bulan bintang. Alasannya setelah MoU diteken, GAM dan segala simbolnya sudah jadi bagian NKRI.
Rezim ini sepertinya kurang kerjaan. Bendera GAM mengadopsi bendera Nanggroe Atjeh Darussalam, yang dahulu merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Bendera Aceh mengadopsi bendera kekhalifahan Turki Utsmani. Ini tidak patut dipersoalkan. Yang harus dipersoalkan adalah bendera Bintang David Zionis-Israel yang detik ini masih saja berkibaran di Papua. Kenapa rezim Jokowi tidak pernah mempermasalahkannya? Takut terhadap Zionis-Israel?
Read more ...

Minggu, 09 Agustus 2015

KELUARGA SPANYOL DI MAROKO MASUK ISLAM


El Jadida, Morocco,  24 Syawwal 1436/ 9 Agustus 1436 (MINA) – Jumlah orang asing masuk Islam terus meningkat di Maroko, kabar terkini tiga orang keluarga Spanyol mengumumkan telah masuk Islam pada Jumat, (7/8).
Ayah dan anaknya mengucapkan Syahadat di hadapan ribuan jamaah di Masjid Nour, setelah sholat zuhur. Anak perempuannya diajarkan Syahadat oleh seorang wanita di tempat tinggal para wanita dari masjid. Dalam video yang diposting di YouTube, ayah dan putranya mengungkapkan kebahagiaan mereka masuk Islam dan saudara-saudara baru mereka.
Sang ayah memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Omar sementara anak memilih Idriss sebagai nama barunya, meskipun Islam tidak mewajibkan mualaf untuk berganti nama Muslim.
Setiap tahun selama waktu musim panas, sejumlah orang asing non-Muslim mengumumkan mereka kembali ke ajaran Islam, saat mengunjungi Maroko, demikian se0perti dilaporkan International Islamic News Agency (IINA) dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Berkat tradisi keterbukaan dan toleransi, Maroko telah menjadi dalam beberapa tahun terakhir salah satu tujuan utama bagi orang asing yang ingin belajar dan masuk Islam. Setiap hari, orang asing mengadopsi agama Islam di berbagai kota dari Kerajaan.
Mualaf terbaru dari orang asing untuk Islam di Maroko bulan lalu, ketika seorang pria Perancis dan seorang pria Swiss masuk Islam di Masjid Koutoubia Marrakesh.
Islam adalah agama terbesar di Maroko dengan persentase sekitar 98,7% dari populasi penduduk negara itu,
Read more ...

Ketika Manusia Mengharap Kematiannya


SAUDARAKU,
Dewasa ini, di tengah-tengah terpaan berbagai krisis global, sering kita temui banyak berita mengenai kasus bunuh diri dari banyak negara di berbagai belahan dunia. Kasus bunuh diri ini sebabnya beragam, mulai dari masalah ekonomi, depresi karena tekanan pekerjaan, hingga masalah percintaan adalah yang paling banyak melatar belakanginya. Karena beberapa sebab tadi, orang-orang menjadi berfikir akan lebih baik untuk mengakhiri hidupnya daripada harus menerima realitas yang akan ia hadapi kedepan.
Mengenai hal ini, Rasulullah SAW sudah mewartakan tentang tibanya satu zaman yang ketika kezaliman, fitnah dan musibah merajarela. Sampai-sampai, apabila seseorang lewat satu makam, ia berharap andai dirinyalah yang menghuni makam itu. Harapan seperti ini muncul karena ia merasakan beratnya ujian dan cobaan, dan ingin terbebas dari realitas kehidupannya yang menyakitkan, yang ia rasa lebih pahit dari kematian.
Saudaraku,
Abu Hurairah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari Kiamat belum akan terjadi sampai apabila seseorang yang lewat ke kuburan orang lain akan berkata, ‘alangkah bahagianya jika aku dapat menggantikan tempatnya (di kuburan ini)’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Mas’ud menuturkan, “Akan tiba suatu zaman yang pada saat itu seandainya seseorang mendapati kematian diperjual-belikan, niscaya ia akan membelinya.”
Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang melarang seseorang untuk berharap kematian, seperti hadits yang berbunyi, “Janganlah seseorang di antara kalian mengangankan kematian karena satu cobaan yang menimpanya” (HR. Muslim)
Sebab, tanda yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ini akan terjadi di Akhir Zaman, bukan angan-angan dan doa yang terang-terangan mengharap kematian. Harapan seseorang pada Akhir Zaman ini adalah keinginan dari dasar hati untuk terbebas dari realitas kehidupan yang dipenuhi oleh kemungkaran dan fitnah, walaupun ia harus mati.
Saudaraku,
Perasaan ini tidak serta merta muncul dalam hati setiap muslim Akhir Zaman. Namun, boleh jadi ia merebak di satu kawasan saja, tidak di kawasan yang lain, dan muncul dalam beberapa situasi tertentu saja. Sebab, tingkat keimanan, ketabahan memikul cobaan hidup, serta kesabaran menghadapi kemungkaran itu berbeda-beda dalam diri setiap orang.
Read more ...

Saat Bergabung NKRI Jumlah Masjid di Timor Leste ada 46, Sekarang Ada 17 Masjid

Di masa penjajahan Portugis, Timor Leste dikuasai oleh agama Katolik hingga 99,9 %. Umat Islam tersisa segelinti

Saat Bergabung NKRI Jumlah Masjid di Timor Leste ada 46, Sekarang Ada 17 Masjid


Hidayatullah.com–Minimnya pemahaman da’i terhadap agama atau penguasaan Bahasa Arab yang kurang tidak bisa jadi alasan untuk mengabaikan dakwah di wilayah minoritas seperti Timor Leste.
Hal itu diungkap oleh Yunus Da Costa, utusan da’i Timor Leste dalam acara “Pertemuan Internasional Ulama dan Dai se-Asia Tenggara” di Hotel Putri Gunung Lembang, Bandung, Jawa Barat hari Ahad, (09/08/2015) kemarin.
“Kami tidak bisa menunggu nanti hebat Bahasa Arab baru mau berdakwah,” ungkap Anwar mengawali penjelasannya tentang tantangan dakwah di Timor Leste.
“Sebab akwah ini harus berjalan terus, tidak boleh berhenti,” imbuh Anwar.
Di hadapan ratusan peserta, Anwar sebelumnya minta maaf, sebab ia belum bisa berbahasa Arab secara fasih sebagaimana para utusan lainnya yang saling berkomunikasi dengan bahasa Arab selama di ruang acara.
Anwar mengaku baru ada satu orang da’i yang bisa bercakap Bahasa Arab di Timor Leste.
“Cuma ia sedang berhalangan hadir, yaitu ustadz Muslim Da Costa, Lc,” terang Anwar.
Lebih lanjut Anwar menjelaskan dinamika dakwah di Timor Leste yang dirinci menjadi tiga tahapan dakwah.
Pertama, fase penjajahan Portugis, Kedua, fase bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan ketiga, fase berpisah dari NKRI dan menjadi negara sendiri.
“Masing-masing tahapan tersebut memiliki suka duka dakwah tersendiri,” ucapnya.
Menurut Anwar,  di masa penjajahan Portugis, Timor Leste dikuasai oleh agama Katolik hingga mencapai 99,9 % sedang umat Islam hanya tersisa segelintir itupun dari keturunan daerah Hadramaut, Yaman.
Di masa itu tak ada seorang Muslim yang terlahir dalam keadaan Muslim.
“Bahkan masjid pun hanya ada satu, masjid Nur di Kota Dili,” terang Anwar.
“Saya sendiri adalah generasi awal Muslim di Timor Leste,” aku Anwar.
Selanjutnya, Timor Leste bergabung ke wilayah NKRI menjadi propinsi ke-27. Dengan bekerjasama dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Timor Leste mendapat kiriman 7 orang da’i pada tahun 1981.
Alhasil setelah itu terjadi perubahan signifikan dengan bertambahnya umat Islam menjadi 35.000 orang dalam kurun waktu 1975-1999.
Selain itu masjid bertambah menjadi 46 buah dengan madrasah-madrasah yang tersebar di berbagai distrik di Timor Leste.
“Umat Islam kira-kira mencapai 40% dan non Muslim 60% saat itu,” ucap Anwar kembali.
Seiring waktu, akhirnya Timor Leste memilih berpisah dari NKRI dan bagi Anwar sebagai da’i, inilah masa-masa sulit dalam berdakwah.
Saat itulah jumlah umat Islam merosot tajam menjadi hanya 5000 orang dari 35.000 umat Islam sebelumnya.  ucap Anwar. Masjid bahkan kembali menjadi satu buah saja yang aktif,” imbuh Anwar.
Meski demikian Anwar mengaku hal ini juga menjadi ladang dakwah buat para da’i di Timor Leste.
Pelan tapi pasti dakwah terus bergulir dan mulai menampakkan hasil menggembirakan.
“Hari ini Timor Leste memiliki 17 buah masjid/mushalla dengan jumlah umat Islam mencapai sekitara 6000 orang lebih,” ujar Anwar.
“Kami undang bagi siapa saja yang mau bergabung berdakwah bersama kami di Timor Leste,” demikian ajar Anwar Da Costa.
Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG