Breaking News

Selasa, 31 Maret 2015

Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh, Haram?

Yang dimaksud dengan menggugurkan kandungan dalam pembahasan ini adalah: menggugurkan secara paksa janin yang belum sempurna penciptaannya atas permintaan atau kerelaan ibu yang mengandungnya . Adapun dasar dari pembahasan ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga , berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang bahagia. “ (Bukhari dan Muslim)
Untuk memudahkan pemahaman, sebaiknya kita bagi pembahasan ini dalam beberapa bagian sebagai berikut:
1. Menggugurkan janin sebelum peniupan roh
Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga pendapat:
Pendapat Pertama:
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. ( Hasyiat Al Qalyubi : 3/159 ) Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali. Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya izin dari kedua orang tuanya (Syareh Fathul Qadir : 2/495. Adapun dalilnya adalah hadist Ibnu Mas’ud di atas yang menunjukkan bahwa sebelum empat bulan, roh belum ditiup ke janin dan penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan).
Pendapat kedua:
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai pada waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram. Dalilnya bahwa waktu peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh menggugurkan janin jika telah mendekati waktu peniupan ruh , demi untuk kehati-hatian. Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli, salah seorang ulama dari madzhab Syafi’i (Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591, Nihayatul Muhtaj : 7/416).
Pendapat ketiga:
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa sperma sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan kejahatan. Pendapat ini dianut oleh Ahmad Dardir, Imam Ghozali, dan Ibnu Jauzi (Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof : 1/386).
Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan) , telah dianggap benda mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani, ataupun disholati. Sehingga bisa dikatakan bahwa menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak dikatagorikan pembunuhan, tapi hanya dianggap merusak sesuatu yang bermanfaat.
2. Menggugurkan janin setelah peniupan roh
Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan dalam perut ibu. Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Mas’ud di atas. Janin yang sudah ditiupkan roh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh. Hukum ini berlaku jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat.
Namun jika di sana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan membahayakan ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat:
Pendapat pertama:
Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama. Dalilnya adalah firman Allah swt:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.“ ( Q.S. Al Israa’: 33 )
Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, maka tidak boleh membunuh janin yang sudah ditiup rohnya, hanya karena sesuatu yang meragukan (Hasyiyah Ibnu Abidin : 1/602). Selain itu, mereka memberikan permisalan bahwa jika sebuah perahu akan tenggelam, sedangkan keselamatan semua perahu tersebut bisa terjadi jika sebagian penumpangnya dilempar ke laut, maka hal itu juga tidak dibolehkan.
Pendapat Kedua:
Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan daripada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya terakhir. (Mausu’ah Fiqhiyah : 2/57) Prediksi tentang keselamatan Ibu dan janin bisa dikembalikan kepada ilmu kedokteran, walaupun hal itu tidak mutlak benarnya. Wallahu A’lam.
Read more ...

Pengertian April Mop: Sejarah April’s Fools Day Pandangan Islam


April Mop dalam Bahasa Inggris disebut sebagai April’s Fools Day yang sudah biasa dirayakan pada tanggal 1 April pada setiap tahunnya. Pada hari itu, orang dikira bisa berbohong atau berikan lelucon pada orang lain tanpa dikira bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu serta lelucon yang lain pada keluarga, musuh, rekan bahkan juga tetangga dengan maksud membuat malu beberapa orang yang gampang ditipu. Semua itu bisa dilakukan dengan kata kata lucu, prilaku lucu, sms lucu ataupun apa saja yang dapat mengundang lelucon-lelucon untuk sebuah hiburan semata. 
Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan kalender baru (kalender Gregorian) untuk menggantikan kalendar Julian yang lama. Kalender baru menyerukan hari tahun baru dirayakan 1 Januari. Tahun itu, Perancis mengadopsi reformasi Kalendar dan bergeser hari tahun baru untuk 1 Januari. Menurut penjelasan yang populer, banyak orang baik menolak untuk menerima tanggal baru, atau tidak belajar tentang hal itu, dan terus merayakan hari tahun baru pada 1 April.
Penjelasan lain tentang asal-usul hari April Mop disediakan oleh Joseph Boskin, seorang profesor sejarah di Boston University. Dia menjelaskan bahwa praktek dimulai selama pemerintahan Constantine, ketika sekelompok bergurau mengatakan kepada Kaisar Romawi bahwa mereka bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik menjalankan Kekaisaran. Constantine, geli, diperbolehkan jester bernama Kugel menjadi raja untuk satu hari. Kugel melewati sebuah dekrit yang menyerukan absurditas pada hari itu, dan adat menjadi acara tahunan.
Sejarah April Mop Menurut Islam
Sesungguhnya, April Mop yaitu suatu perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya beberapa ribu umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dikerjakan melalui beberapa cara penipuan. Karena tersebut, mereka merayakan April Mop lewat cara melegalkan penipuan serta kebohongan walaupun dibungkus dengan dalih sebatas hiburan atau keisengan belaka.
Meskipun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade paling akhir menunjukkan kecenderungan yang semakin akrab di orang-orang perkotaan kita. Terlebih di kelompok anak muda. Bukanlah tidak mungkin juga, ke depan juga bakal meluas ke orang-orang yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, orang-orang dengan gampang mengikuti kebudayaan Barat ini tanpa ada mengkritisinya terlebih dulu, apakah budaya itu baik atau tak, berguna atau demikian sebaliknya.
Untuk umat Islam, April Mop pasti adalah tragedi yang amat menyedihkan. Hari dimana beberapa ribu saudara-saudaranya se-iman disembelih serta dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Karenanya, yaitu amat tak layak juga ada orang Islam yang ikutan merayakan kebiasaan ini. Siapa saja orang Islam yang ikut merayakan April Mop, jadi ia sebenarnya tengah merayakan lagi tahun pembunuhan massal beberapa ribu saudara-saudaranya di Granada, Spanyol.
Read more ...

Pajak Jalan Tol Resmi Berlaku 1 April 2015

Para pengguna jalan tol harus siap-siap untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Sebab, Direktorat Jenderal Pajak memastikan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen jalan tol bakal berlaku pada 1 April 2015. 

Pelaksana Tugas Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Wahju K Tumakaka menyebutkan payung hukum penarikan PPN tol tersebut telah ditandangani oleh Direktur Jenderal Pajak Sigit Priadi Pramudito melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak No PER-10/PJ/2015 tentang Tata Cara Pemungungat Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Jasa Jalan Tol. 

Dalam peraturan tersebut, pengusaha jalan tol wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang selanjutnya memiliki kewajiban untuk memungut, menyetor dan melaporkan PPN terutang.

" Pengusaha jalan tol wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Jasa Jalan Tol, dan untuk kemudahan, karcis tol merupakan dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak," kata Wahju dalam siaran tertulis kepada media,  Kamis (12/3).

Waju menjelaskan PPN 10 persen dimasukkan ke dalam karcis tol. Dalam karcis tersebut harus pengelola jalan tol juga harus mencantumkan keterangan bahwa  nilai tersebut sudah termasuk PPN. 

Sedangkan Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang digunakan untuk kegiatan penyerahan jasa jalan tol, merupakan pajak masukan yang dapat dikreditkan
Read more ...

Pengamat: Pertamina Terancam Bangkrut dan Dikuasai Asing!


Berdasarkan UU No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas, serta UU Tentang BUMN, Pertamina bukan lagi Badan Layanan Publik (BLU). Menurut peneliti ekonomi politik dari AEPI- Jakarta, Salamuddin Daeng mengatakan Pertamina adalah perusahaan perusahaan yang berorientasi mencari keuntungan. Padahal perusahaan ini masih mendapatkan subsidi dari negara. Meski di era Pemerintahan Jokowi subsidi itu telah berkurang 300 persen.
Sementara untuk mendapatkan keuntungan pada kondisi sistem politik Indonesia yang carut marut ditambah dengan maslaah otonomi daerah, adalah hal yang sangat sulit bagi pertamina. Mengapa ?
* PT. Pertamina dikendalikan oleh sindikat dan mafia yang berdiri dibalik kekuasaan pemerintahan. Mereka mengendalikan Impor, ekspor, belanja modal dan investasi yang kesemuanya dijadikan sebagai ajang “begal” mendapatkan jatah dalam belanja Pertamina.
* Keuntungan dan pendapatan PT. Pertamina harus disetorkan kepada pemerintah sebagai penerimaan negara, sehingga Perusahaan tidak dapat mengembangkan usahanya secara efektif.
* Para politisi yang berkuasa ditenggarai menjadikan Perusahaan Pertamina sebagai ajang pemerasan, mengeruk setoran, sebagai imbalan atas jabatan jabatan dalam perusahan yang ditentukan oleh pemerintah.
* Perusahaan Pertamina diperas dengan berbagai macam pajak, bunga, dll. Sehingga biaya yang ditanggung perusahaan sangat tinggi. Biaya lifting, refinary dan transportasi (LRT) Perusahan mencapai 24 USD per barel, pajak 15 % dan beban bunga 10 %. Kesemuanya menjadikan Petamina sebagai perusahaan dengan biaya paling mahal sedunia.
Sehingga perhitungan kasar dengan total pengolahan minyak 1,25 juta barel perhari Pertamina harus mengeluarkan biaya sedikitnya Rp. 476 Triliun setahun untuk belanja minyak mentah, pajak, bunga. Sementara revenue yang diperoleh Pertamina pada tingkat harga yang berlaku sekarang, ditambah dengan subsidi APBN senilai Rp. 81 triliun sebesar Rp.409 triliun. Menyedihkan memang !
Perusahaan pertamina dalam keadaan sekarat. Manajeman telah mengumumkan secara resmi merugi sangat besar setiap bulan. Walaupun harga minyak telah dinaikkan, atau dinaikkan lagi, tetap Pertamina akan rugi. Sementara pemerintahan Jokowi tidak berkenan memberikan subsidi, karena subsidi katanya akan dialokasikan untuk infrastruktur.
Sehingga disimpulkan bahwa ditengah kondisi sekarang, dimana moral politisi jatuh pada tingkat paling rendah, pajak, bunga dan biaya biaya siluman lainnya sangat tinggi, maka perusahaan Pertamina hanya tinggal tulang belulang saja.
Sementara utang luar negeri Pertamina di pasar keuangan global telah mencapai Rp. 100 trilun lebih. Perusahaan ini terancam disita oleh sindikat keuangan internasional karena tidak sanggup membayar utang utangnya.
Satu satunya cara adalah perusahaan Pertamina oleh manajemen dikembalikan kepada negara, untuk dijadikan sebagai Badan Layanan Publik (BLU) yang tidak berorientasi keuntungan. Dengan demikian Pertamina kembali pada roh pendiriannya sebagai alat perjuangan meraih kemerdekaan, kedaulatan bangsa dan kesejahteraan rakyat
Read more ...

Kemkominfo akui tak meneliti isi konten situs yang diblokir


Terkait pemblokiran situs-situs media Islam, pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengakui kalau pihaknya tidak sampai meneliti isi konten media-media Islam online yang diminta ditutup oleh BNPT.
Humas Kemkominfo kepada wartawan menjelaskan bahwa pihaknya hanya meneruskan apa yang telah direkomendasikan dari BNPT.
“Jadi sesuai dengan penjelasan dari tim trust positif, semua domain website yang direkomendasikan untuk diblokir kami kominfo meneliti satu-satu tapi tidak meneliti ke dalam,” jelas Ismail selaku Humas Kemkominfo kepada para wartawan yang hadir pada pertemuan antara perwakilan media islam online yang diblokir dengan pihak Kemkominfo, Selasa pagi tadi (31/3/2015).
Lebih lanjut Ismail menegaskan dari 26 website yang dianggap radikal, ada beberapa sudah tidak aktif dan ada juga yang cuma duplikasi dari situs yang ada.
“Jadi cuman sampai di situ saja, kami tidak sampai meneliti kontennya seperti apa karena itu sudah rekomendasi BNPT,” tandas Ismail, seperti dikutip Islampos.
Pemblokiran situs-situs Islam menuai kecaman dari netizen, ribuan orang menggunakan tagar #KembalikanMediaIslam sebagai bentuk protes terhadap aksi Kemkominfo yang dengan mudahnya meloloskan rekomendasi BNPT.

Read more ...

Pembredelan Media Islam, Jokowi Lebih Sadis Ketimbang Soeharto


Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) lewat Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir 19 media on line Islam. Karena hal tersebut, pembredelan media Islam pada rezim Jokowi dinilai lebih sadis dibanding rezim Presiden Soeharto.
“Itu pembredelan media-media Islam itu sadis. Niat pembredelan itu harus dipertanyakan ke Jokowi,” ujar Pengamat Terorisme dari Indonesian Crime Analys Forum, Mustofa B Nahrawardaya kepada Okezone, Rabu (1/4/2015).
Ia menambahkan, era Soeharto pembredelan media Islam tidak separah sekarang. Sebab sampai hari ini sudah 19 media Islam yang diblokir Pemerintah. Media-media Islam itu diblokir karena diduga menyiarkan paham-paham ISIS.
“Saya sudah teliti media-media Islam itu. Mereka tidak mengajarkan berbuat radikal. Mereka hanya memberitakan ISIS seperti yang diberitakan media-media Timur Tengah. Sama seperti media nasional. Hanya saja media Islam ini lebih banyak memberitakan ISIS dibanding pemberitaan ISIS di media nasional. Apa salahnya?” ucap Mustofa.
Menurutnya, jika pemerintah ingin menumpas ISIS, yang diberangus bukan media Islam. Tetapi orang-orang yang mengajak untuk bergabung ke ISIS.
Sementara itu, dari 19 Media Islam yang diblokir, di antaranya adalah arrahmah.com, Voa-islam.com, dakwatuna.com, hidayatullah.com dan salam-online.com.
Read more ...

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam


SEMBARI mempromosikan buku terbarunya, Heretic, pada acara talkshow “The Daily Show” yang tayang pada 23 Maret, penulis serta aktivis anti-Islam kelahiran Somalia, Ayaan Hisi Ali membuat pernyataan mengejutkan: “Jika anda melihat pada kekerasan yang terjadi di seluruh dunia sekarang, 70% diantaranya dilakukan Muslim,” ungkapnya pada presenter Jon Stewart.
Jon Stewart tidak memintanya menunjukkan barang bukti dan Hirsi Ali tidak mengutip sumber apapun. Tetapi, dirinya membuat pernyataan serupa pada essay yang terbit tanggal 20 Maret 2015, yang menjadi preview bukunya di harian Wall Street Journal: “Menurut International Institute for Strategic Studies (IISS), setidaknya 70% kematian yang disebabkan oleh konflik bersenjata di seluruh dunia tahun lalu melibatkan Muslim.”
IISS adalah sebuah lembaga independen yang menangani kebijakan luar negeri yang berpusat di Inggris. Ketika dihubungiAlterNet mengenai statistic yang dibuat oleh Hirsi Ali, juru bicara IISS, Kat Slowe, menyatakan bahwa lembaganya tidak pernah membuat pernyataan tersebut dalam penelitiannya.
“Saya telah bebicara dengan beberapa staf ahli kami, dan mereka tidak tahu darimana statistic ini datang,” ujar Slowe. “Tebakan terbaik mereka adalah si jurnalis ini (Hirsi Ali) memiliki akses atau berlangganan database mengenai konflik bersenjata milik kami, lantas menghitungnya sendiri. Ada kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menyesatkan, karena jika konflik di Suriah tidak dihitung maka angka tersebut akan terlihat sangat berbeda,” imbuh Slowe. Konflik di Suriah menewaskan hampir 200.000 orang, dimana jumlah tersebut adalah hampir separuh dari seluruh orang yang tewas dalam konflik kekerasan tahun lalu. Dan tentu seluruh konflik tersebut tidak berakar pada agama.
Baik AHA Foundation yang dimiliki Hirsi Ali maupun American Enterprise Institute yang memperkerjakan Hirsi Ali sebagai peneliti mereka tidak menanggapi ketika ditanya mengenai statistic tersebut. E-mail yang dikirim oleh AlterNet kepada Hirsi Ali juga tidak dibalas.
Sekitar 24 jam setelah AlterNet berusaha menghubungi Hirsi Ali, yang bersangkutan membuat pernyataan publik mendukung klaim-nya tersebut. “Sangat menyedihkan bahwa 70% kematian dalam konflik bersenjata di dunia tahun lalu melibatkan Muslim,” kicaunya di akun Twitter pribadinya.
Hirsi Ali juga menyertakan link tentang hasil survey yang menyebutkan jumlah korban meninggal dalam konflik global. Survey tersebut dibuat oleh peneliti IISS, Hanna Ucko Neill dan Jens Wardenaer, yang tidak ada hubungannya sama sekali kepada kekerasan karena agama ataupun Muslim.
Tampaknya Hirsi Ali menghitung sendiri statistic milik IISS yang mendokumentasikan korban tewas dalam konflik di berbagai teritori, mulai dari Ukraina Timur hingga sub-Saharan Afrika terus ke Timur Tengah, dan Meksiko dimana pembantaian yang dilakukan kartel narkoba banyak terjadi. Slowe mengatakan bahwa adanya peningkatan korban tahun lalu karena adanya konflik Suriah, serta menjelaskan lebih lanjut bahwa klaim yang dibuat Hirsi Ali “menyesatkan” karena “konflik ini tidak berakar pada agama.”
Bukannya merespon pertanyaan jurnalis AlterNetAHA Foundation justru meneruskan email tersebut ke Washington Free Beacon, sebuah media sayap-kanan yang memiliki sejarah menuliskan cerita bohong serta dilebih-lebihkan untuk menimbulkan Islamophobia. Karena email tersebut, Free Beacon menyebut jurnalis AlterNet sebagai anti-Semitis.
Sejarah Penipuan
Statistik mencurigakan Hirsi Ali adalah penipuan baru yang dilakukan oleh salah satu penentang Islam paling gigih. Sementera aktivis anti-Muslim lainnya seperti Robert Spencer dan Pamela Geller telah termarginalisasi, Hirsi Ali masih menjadi favorit media mainstream Amerika. Bukunya, Heretic, Hiris Ali mengulangi lagi argument-argumennya terdahulu yang menimbulkan polemik. Tak ketinggalan dirinya meminta sesosok Muslim seperti Martin Luther, seorang anggota pemerintahan pada abad ke-16 yang dihujat karena membakar synagog milik Yahudi, yang dia bandingkan dengan penyakit mematikan. Dengan diterbitkannya buku tersebut, Hirsi Ali diterima dengan tangan terbuka oleh BBC, presenter CNN Anderson Cooper, dan juga Jon Stewart dari stasiun TV ABC.
Acara berita channel tersebut bahkan menuliskan kutipan dari Heretic, sementara New York Times Book Review bahkan mewawancarai Hirsi Ali secara ekslusif, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti buku anak-anak favoritnya
Kekuatan Hirsi Ali untuk meyakinkan terletak pada cerita pribadinya yang dramatis dan pesona publik yang telah dibentuknya. Dia telah memasarkan dirinya sebagai informan native, yang telah keluar dari lembah hitam Islam radikal dan menuju terangnya masyarakat Barat. Ceritanya dianggap menggugah serta menyentuh, karena menyediakan cerita yang ingin didengar orang Barat tentang diri mereka serta musuh mereka. Dengan sikap anti-Islam sedang memuncak di seluruh Eropa dan Amerika, kritik Hirisi Ali terhadap Islam sebagai kepercayaan penuh kekerasan adalah sebuah cap pengakuan yang besar. Satu-satinya masalah adalah, seperti tulisannya terhadap Islam, apa yang diberitahukan kepada orang lain tentang dirinya patut dipertanyakan.
Pada Mei 2006, program televisi Belanda Zembla secara seksama membongkar cerita dramatis yang didongengkan Hirsi Ali untuk mengangkat karirnya. Zembla menyimpulkan Hirisi Ali telah menjual ‘cerita penuh kerancuan.’
Terlahir dengan nama Ayaan Hirsi Magam, dia berimigrasi ke Belanda pada 1992, mengganti namanya menjadi Hirsi Ali, dan berbohong pada autoritan Belanda tentang masa lalunya. Tidak seperti ceritanya pada pemerintah, dia tidak datang dari Somalia yang porak poranda karena perang, tapi dari Kenya, dimana dia tinggal di lingkungan yang aman dan berada di naungan perlindungan PBB.
PBB juga membiayai sekolahnya di sebuah sekolah putri Muslim yang bagus. Meskipun dia mengatakan bahwa dirinya kabur dari perang sipil di Somalia, sebenarnya dia pergi sebelum perang tersebut pecah. Seumur hidup Hirsi Ali tidak pernah hidup di tengah perang dimanapun. Berkat kebohongannya, Hirsi Ali mendapatkan suaka politik hanya dalam waktu lima minggu.
Hirsi Ali memberi tahu penonton yang terpana pada sebuah talk show di TV Belanda bahwa keluarganya, yang katanya taat, telah memaksanya menikahi seorang pria Muslim yang kejam. Dimana dia tidak boleh menghadiri upacara pernikahannya sendiri, dan keluarganya mengancam untuk membunuhnya karena telah melecehkan kehormatan agama mereka. Tetapi, Zembla membeberkan cerita yang sebaliknya. Saudara laki-laki, bibi serta mantan suami Hirsi Ali masing-masing bersaksi bahwa dia hadir di upacara pernikahannya. Ibu HIrsi Ali diungkapkan telah mengirim anak laki-lakinya ke sebuah sekolah Kristen, menunjukkan bahwa keluarganya bukan fanatis Islam.
“Yeah, memang aku mengarang semuanya,” aku Hirsi Ali pada reporter Zembla yang mengkonfirmasi kebohongannya. “Aku mengaku namaku Ayaan Hirsi Ali dan bukannya Ayaan Hirsi Magan. Aku juga mengaku lahir di tahun 1967 padahal aslinya aku lahir tahun 1969.”
Klaim Hirsi Ali mengenai ancaman pembunuhan juga dusta belaka. Dia tetap berhubungan dengan ayah dan bibinya setelah meninggalkan suaminya. Bahkan sebenarnya, suaminya mengunjunginya ke pusat pengungsian di Belanda, dimana dia tinggal setelah pergi dari suaminya. Pria tersebut bahkan membiayai perjalanan Ali ke Eropa dengan perjanjian mereka akan bertemu lagi di Kanada, namun akhirnya dia mengabulkan permintaan cerai istrinya.
Dusta yang Menggulingkan Pemerintahan
Pada 2003, hanya satu dekade setelah mendapatkan suaka politik di Belanda, Hirsi Ali memenangkan pemilu untuk duduk di parlemen lewat Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi. Pimpinan VVD tahu bahwa kisah yang diceritakan Hirsi Ali pada formulir imigrasinya adalah sebuah kebohongan kelas kakap, karena Hirsi Ali telah mengakui pada partainya. Tapi mereka menutupi penipuan publik tersebut dan bahkan membantunya meningkatkan karirnya.
“Dia menyaksikan lima perang sipil di masa kecilnya, dan telah kabur bersama keluarganya berulang kali. Dia terbuat dari besi dan baja,” kata Neelie-Smit Kroes dari VVD saat itu, menguatkan klaim bahwa partai Hirsi Ali tahu dia berbohong.
Setahun setelah bergabung dengan parlemen Belanda, dimana dia mencoba untuk melarang sekolah Islam di Belanda, Hirsi Ali berkolaborasi dengan sutradara Belanda Theo van Gogh untuk memproduksi sebuah film documenter berjudul Submission. Film tersebut menggambarkan kekerasan terhadap wanita dalam komunitas Muslim sebagai hasil dari pemikiran Islam, menampilkan aktris yang berperan sebagai wanita yang teraniaya dan menayangkan wanita yang menggunakan niqab dan setengah telanjang dengan kalimat-kalimat dalam huruf hijaiyah tertulis di seluruh tubuhnya.
Van Gogh, seorang filmmaker dan kolumnis yang menyebut Muslim sebagai ‘penyetubuh kambing’, ditembak dan ditusuk hingga tewas oleh seorang Muslim radikal Belanda segera setelah film tersebut dirilis. Sebelum kabur dari TKP, pembunuh tersebut meninggalkan pesan di mayat van Gogh, mengancam akan membunuh Hirsi Ali juga. Sikap Hirsi Ali yang konsisten terhadap kejadian tersebut membuatnya dijuluki pahlawan di dunia Barat, terutama di Amerika pasca kejadian 9/11, dimana majalah Time memasukkannya dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di tahun 2005
Pengungkapan yang dilakukan Zembla pada Mei 2006 memandekkan karirnya dan membuat ribut Pemerintahan Belanda. Tidak ada yang lebih terpukul terhadap hal itu daripada teman serta sekutu Hirsi Ali di partai, Menteri Imigrasi Rita Verdonk. Wanita yang mendapatkan julukan Iron Rita karena kebengisannya terhadap penetapan peraturan anti-migran dan pendekatan demagogic-nya terhadap xenophobia tersebut, dipermalukan oleh terbongkarnya dongeng Hirsi Ali. Saat dia mengumumkan niatnya untuk melucuti kewarganegaraan Hirsi Ali, Verdonk malah dihujat habis-habisan di parlemen dan dipaksa mengalah.
Beberapa hari setelah Zembla membongkar kedoknya, Hirsi Ali mengumumkan untuk meninggalkan parlemen dan bergabung dengan American Enterprise Institute, lembaga penelitian berbasis di Washington yang menaungi banyak orang-orang neokonservatis yang membantu pengaturan invasi AS ke Irak. Tidak lama setelah kehebohan yang dibuat Hirsi Ali, Verdonk memperkenalkan “Hukum Integrasi”, salah satu undang-undang anti imigran yang paling kasar di Eropa. Hanya satu anggota dari Badan Perwakilan Belanda menentangnya. Akan tetapi, koalisi pemerintahan tersebut akan segera kolaps karena skandal Hirsi Ali tersebut. Dengan koalisi baru mulai memerintah pada Februari 2007, dan tanpa Verdonk dan Hirsi Ali berkuasa, pemerintah dapat mengadaptasi pendekatan yang lebih toleran terhadap para imigran.
Mendapat Beasiswa Harvard, Membela Breivik
Sejak kepindahannya ke AS, Hirsi Ali dirangkul oleh koalisi antara kelompok intervensi liberal, neokonservatif, dan ‘Atheis Baru’ seperti Christopher Hitchens, Sam Harris dan Bill Maher. Dengan tampil di channel Christian Broadcasting Network bersama Pat Robertson, yang menyalahkan homoseksualitas atas serangan 9/11, Hirsi Ali yang mengaku sebagai feminis mendapatkan banyak pengikut umat Kristiani. Meskipun dirinya memiliki pandangan negative terhadap Islam, yang disebutnya sebagai ‘perkumpulan destruktif, nihil, dan mematikan’, dia mendapatkan beasiswa dari Kennedy School of Government Universitas Harvard. Atau gara-gara itu dia dapat beasiswa.
Semakin naik statusnya di mata kaum intelktual Amerika, sejarah kebohongan Hirsi Ali makin panjang. Pada promosi bukunya yang laris manis di tahun 2007, Infidel, pihak penerbitan Simon & Schuster mengenyahkan klaim yang menentang cerita tentang Hirsi Ali selamat dari perang sipil. Baru-baru ini, cendekiawan Peggy Noonan melebih-lebihkan alasan di balik pindahnya Hirsi Ali dari Belanda ke Amerika. Noonan menulis, “Ayaan Hirsi Ali mendapatkan ancaman pembunuhan dan akhirnya mengungsi ke Amerika.” Sedikit, bahkan hampir tidak ada, portal berita Amerika yang menyebutkan bahwa Hirsi Ali pindah dari Belanda karena kredibilitas publiknya telah jatuh dan partai anti imigrannya masuk ke dalam krisis.
Dalam lawatannya ke Berlin di tahun 2012 untuk menerima Axel Springer Honorary Award dari penerbitan sayap kanan Jerman, Hirsi Ali tampaknya menyalahkan pembela multicultural liberal atas pembantaian yang dilakukan oleh ekstrimis Norwegia, Anders Breivik. Ali menyatakan bahwa mereka membuat Breivik tidak memiliki pilihan selain menggunakan kekerasan. Sekadar catatan, Breivik mengutip tulisan Hirsi Ali dalam manifesto setebal 1500 halaman yang menjelaskan rencananya untuk melakukan serangan terror di seluruh Norwegia.
“Pria itu membunuh 77 orang di Norwegia, karena dia takut Eropa akan dikuasai oleh Islam. Dia mungkin juga telah mengutip hasil kerja orang-orang yang berbicara dan menulis melawan Islam di Eropa dan Amerika, saya salah satunya, tapi dia tidak menyatakan di essay setebal 1500 halaman tersebut bahwa orang-orang ini yang menginspirasinya untuk membunuh. Dia mengatakan terang-terangan bahwa hukum yang memaksanya tutup mulut. Karena semua media untuk mengekspresikan pendapatnya kena sensor, maka dia tidak memiliki cara lain kecuali kekerasan.” Ujar Hirsi Ali dan disambut oleh standing ovation panjang.
Saat Universitas Brandeis (sebuah universitas Yahudi di Massachusetts) membatalkan rencana mereka untuk memberi gelar honoris causa kepada Hirsi Ali bulan April 2014, ini memberikan sinyal bahwa penyerangan sangat tajamnya terhadap Islam dan para penganutnya sudah tidak mempan lagi. Namun kemudian kasus Charlie Hebdo di Paris terjadi, dan ini seperti bukti dari semua pernyataan Hirsi Ali dan sesama aktivis anti-Islam. Dua bulan setelahnya, dia merilis Heretic.
Dengan membuat brand baru bagi dirinya sebagai ‘reformis’ yang berani seperti orang-orang kulit hitam yang berpawai dari Selma, Alabama memperjuangkan hak untuk ikut pemilu di tahun 1965, Hirsi Ali telah menemukan jalannya kembali ke lingkungan mainstream. Selama media Amerika masih mengakomodasi kegemarannya menyuarakan polemik tentang Islam, menganggap Hirsi Ali sebagai penjahat masih sebuah hal yang tabu
Read more ...

Penutupan Situs Islam Untungkan Aliran Sesat, Sepilis dan Komunis


PERMINTAAN BNPT kepada Kementerian Kominfo agar menutup dan memblokir via DNS sejumlah website Media Islam Online semakin menunjukkan abuse of powerpemerintah. Suatu yang patut dipertanyakan, mengapa sedemikian tanggapnya BNPT terhadap perkembangan lingkungan strategis yang terjadi di Timur Tengah dengan gerakan ISIS kemudian membelenggu kebebasan informasi masyarakat luas.
Terlebih lagi yang menjadi sasaran adalah sejumlah Media Islam online. Kondisi yang demikian semakin membuka tabir gerakan musuh-musuh Islam dalam lingkup kekuasaan pemerintahan saat ini. Kesembilan belas Media Islam Online yang menjadi sasaran adalah Media Islam yang sangat concern terhadap perjuangan Islam. Salah satunya yang paling pokok adalah menjaga kemurnian ajaran pokok Islam dari pengaruh aliran-aliran sesat dan yang paling berbahaya adalah Syiah Iran, “The New Rafidah”.
Dengan demikian, menjadi jelas kebijakan yang diambil oleh BNPT – yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh Kementerian Kominfo – sangat merugikan Islam. Seharusnya pemerintah – dalam hal ini BNPT – tercerahkan dengan informasi yang disampaikan oleh Media Islam, kemudian melakukan penelitian lanjutan tentang adanya ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI, seperti ekspansi ideologi Syiah Iran yang semakin massif san ofensif merasuk ke semua sektor fungsi-fungsi pemerintahan.
Tindakan abuse of power atas nama menghentikan paham radikalisme termasuk simpatisannnya – sebagaimana disebutkan oleh Kementerian Kominfo – merupakan tindakan yang ceroboh dan sekaligus menunjukkan tidak berpihaknya BNPT atas “Demokratisasi dan Kebebasan Pers.
Suatu yang antagonistik, politik polarisasi dalam bentuk melemahkan perjuangan Islam di satu sisi, di sisi lain memberikan keluasan bagi gerakan aliran sesat yang bukan hanya membahayakan bagi Islam namun juga NKRI.
Efek yang ditimbulkan dari kebijakan BNPT yang ceroboh ini akan memberikan pengaruh bagi penguatan kaum Sekularis, Pluralis dan Liberalis (SEPILIS), aliran sesat dan komunis yang memang menginginkan Indonesia sebagai Negara yang memisahkan Negara dengan Agama secara permanen (sekularistik).
Ciri utama dari Negara sekularsitik adalah hukumnya positivistik / legalistik, sebagaimana dipraktekkan oleh Hitler, begitupun Republik Rakyat Cina (RRC), Negara-negara Blok Amerika dan Republik Iran saat ini. Negara tersebut memang sangat anti terhadap peran agama Islam dalam politik pemerintahan.
Adapun Republik Iran bukanlah representasi model pemerintahan Islam, melainkan pemerintahan Syiah. Kekuasaan (politik) dan hukum berada pada satu tangan yakni Rahbar, semua keputusan berada dan diputuskan melalui Rahbar, bukan Presiden maupun parlemen.
Dalam pemikiran positivistik tidak terdapat pengakuan nilai-nilai agama yang ada adalah kemauan penguasa yang bersifat temporer dan untuk kepentingan kekuasaan belaka. Untuk itu, kepastian hukum menjadi utama, bukan keadilan yang mengandung kemaslahatan. Kepastian selalu dikejar atas nama stabilitas Keamaan Nasional, namun di balik itu mendiskritkan perjuangan penegakan syariah Islam. Pada tataran yang lebih luas, dikhawatirkan semangat umat akan mengalami penurunan signifikan, cendekiawan Islam akan dikalahkan dengan kaum sekular yang menghendaki minimalisasi peran Islam dalam Negara.
Saya mensinyalir kebijakan BNPT tersebut akan mengarah kepada pengkerdilan Ormas-Ormas Islam melalui produk peraturan perundang-undangan yang membatasi ruang hidup dalam politik. Revisi atas Undang-Undang tentang Ormas akan digalakkan termasuk pula rencana pembentukan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) yang kontroversial, memberikan tempat bagi kaum SEPILIS dan aliran-aliran sesat, termasuk berkembangnya paham komunis.
Tentu ini akan sejalan dengan skenario besar kaum SEPILIS, Komunis Gaya Baru (KGB) dan aliran-aliran sesat untuk lebih leluasa dalam menjangkau pusat-pusat kekuasaan. Mereka akan bersatu-padu dan bahu-membahu, karena kepentingan dan tujuannya adalah sama, yakni memperoleh jaminan dan pengaruh.
Contoh nyata adalah Syiahisasi yang tengah diperjuangkan oleh elite-elite Syiah di Indonesia dalam rangka membangun rasa, paham dan semangat Iran (Iranisasi). Syiah Iran akan mengeksodus umat Islam menjadi Syiah, menggantikan nasionalisme Indonesia menjadi nasionalisme Persia. Sama dengan Syiah dan Komunis akan berupaya menggantikan ideologi Pancasila.
Di pihak lain kaum SEPILIS akan diuntungkan dengan melemahnya peran Ormas Islam, meniadakan saingan dan pengaruh dalam rangka mengembangkan pemikirannya. Harapan mereka, pada saat umat Islam lengah dan melemah, mereka akan mendapat pengaruh dan kuasa.
Inilah saat-saat yang dinantikan Syiah Iran, dalam suatu kondisi melemahnya umat Islam, Syiah Iran hanya memiliki dua saingan yakni kaum SEPILIS dan Komunis. Akan tercipta hubungan “Klientelistik”, tentunya dengan Syiah sebagai pemegang kendali, pada fase ini ideologi Pancasila tidak lagi “sakti”, telah tergantikan dengan ideologi Imamah Syiah Iran.
Kesimpulan yang dapat kita petik adalah, ketika ruang hidup Ormas-Ormas Islam semakin minimalis, mereka justru berkembang secara maksimalis. Kesemuanya itu, dimulai dari pengkerdilan arus informasi dan interaksi umat dalam kancah perpolitikan.
Tantangan umat Islam memang semakin besar, namun pertolongan Allah SWT akan membesarkan perjuangan umat Islam dan akan menghancurkan musuh-musuh Islam kelak pada akhirnya.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”
Read more ...

Senin, 30 Maret 2015

Naik Lagi… Naik Lagi….


Read more ...

Kejahatan Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah


Selama ini hubungan Barat dan Iran masih terkesan abu-abu atau sengaja disamarkan. Hubungan keduanya justru seolah bertentangan, yaitu dalam penggunaan dan pembangunan fasilitas nuklir. Namun dalam berbagai peristiwa, hal-hal yang samar tersebut menjadi tersingkap. Layaknya sebuah bayangan, semua akan terungkap jika munculnya cahaya.
 
Salah seorang pejuang Suriah yang tengah berada di pusaran konflik global Timur Tengah berusaha untuk menyingkap hal ini. Berikut Kiblat.net hadirkan sebuah tulisan yang aslinya berjudul: “Unmasking The Shadow Allies”.
 
Sudah tak terhitung. Berapa banyak orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur yang bergerak ke Irak dan Kobani. Mereka berjuang bersama Peshmerga, YPG, PKK dan kelompok lainnya untuk memerangi Daulah. Tidak hanya orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur, tapi Kurdi di seluruh dunia juga ikut bergabung. Datang dari berbagai elemen; kelompok preman dan gank Amerika, tentara bayaran Israel, bahkan dokter hewan.
 
Pejuang Kurdi dari Barat yang ikut bergabung memerangi Daulah, bebas dari dakwaan apapun. Tak ada penangkapan di bandara-bandara, paspor mereka masih bebas digunakan, dan tidak ada larangan terbang atau bepergian. Ini berbeda dengan perlakuan terhadap pejuang-pejuang asing di Barat yang ingin berjihad di Suriah.
 
Barat hanya memainkan politiknya terhadap umat Islam yang ingin membela rakyat sipil Suriah atas tindakan kejam Bashar Assad. Kebijakan ini berlaku di seluruh dunia.
                                                                      
Kita juga melihat bahwa Barat menekan Turki dengan intervensi militer atas Kobani. Di saat yang sama, kenapa hal ini tidak dilakukan Barat saat Bashar Assad melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya –sedangkan sama-sama dari daerah yang berbatasan?
 
Jika ingin lebih jauh, maka pertanyaannya; kenapa Barat tidak memaksa Mesir untuk melakukan intervensi militer ketika rakyat Muslim dibantai oleh Zionis di Gaza? Apakah negara Timur Tengah hanya wajib membantu saudaranya saat Barat punya kepentingan di dalamnya?
 
Ketika umat Islam pergi ke Suriah melalui Turki dalam rangka membantu saudaranya, Barat berteriak bahwa perbatasan Turki harus ditutup. Sementara itu ribuan Muslim ditangkap dan diusir. Tapi saat terkait darah Kurdi di Kobani, para pejuang Peshmerga yang menyeberang dari Irak ke Kobani, secara pribadi diterima dan dan disambut oleh Turki. Ini berdasarkan perintah Barat yang disaksikan oleh dunia.
 
Milisi PKK, Hizbullah atau sejenisnya –yang pernah masuk daftar teroris oleh Barat—justru mendapat dukungan secara terbuka ataupun tertutup, langsung maupun tidak langsung. Paling tidak, mereka dibukakan pintu seluas-luasnya, sedangkan menutup rapat-rapat pintu bagi para mujahidin yang ingin membela umat Islam.
 
Hal ini terlihat jelas di Lebanon dan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Milisi Syiah Hizbullah dapat melenggang bebas ke Suriah untuk berrgabung dengan Bashar Assad. Di sisi lain, Muslim Sunni dari Lebanon atau negara lainnya dihalau untuk bergabung dengan mujahidin di Suriah. Milisi Syiah dari negara lain; Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Iran juga dipersilahkan melakukan hal serupa.

Garda Revolusi Iran juga secara terbuka berperan langsung dalam tentara Suriah. Ini sudah menjadi konsumsi publik. Namun, apakah barat dan dunia internasional pernah mengajukan protes atas hal ini. Semua tuduhan hanya tertuju kepada Muslim Sunni yang ingin membantu dan melindungi warga sipil tak bersalah di Suriah.
 
Milisi Syiah Hautsi menyerang kota-kota di Yaman, mengambil alih ibukota Sana’a, mengepung istana presiden, mengusir mantan presiden Yaman Abdu Rabbi Mansur Hadi, dan menempatkannya di bawah tahanan rumah. Kudeta Hautsi ini hampir-hampir tidak pernah menghiasi media-media Barat. Lantas, bagaimana dengan para mujahidin yang selalu mendapat sorotan besar di Irak dan Suriah.
 
Padahal, pemberontak Syiah Hautsi dengan mudahnya berhasil mengakuisisi Yaman tanpa perlawanan. Mata dunia seolah buta dengan tindakan ini. Ketika milisi Syiah Hautsi di Yaman ditangkap, dunia Arab dan Barat hanya melakukan sebuah perundingan. Mengapa mereka bersikap acuh tak acuh saat milisi Syiah melakukan sebuah perlawanan? Di sisi lain dunia begitu waspada ketika mujahidin Sunni membebaskan sebuah kota di negara mereka sendiri.
 
Bandingkan dengan Al-Qaidah dan Anshar Syariah yang menguasai sebuah kota di Yaman, berapa banyak negara yang berkumpul membentuk koalisi menyerang mereka? Ketika Al-Qaidah dan Anshar Syariah mengambil alih kota-kota di Yaman; Adan dan Abyan pada tahun 2012 dengan sebuah pemerintahan syariah. Maka, militer Yaman langsung melawan mereka dengan dukungan dan bala bantuan internasional.

Tapi sekarang ini dunia betah menonton, manakala pemberontak Hautsi mengambil alih Yaman tanpa ada perlawanan, baik dari tentara Yaman ataupun dunia. Bahkan, serangan udara AS justru diarahkan kepada Al-Qaidah dan anggota Anshar Syariah serta suku-suku Sunni di Yaman.
 
Padahal mereka sedang berjuang untuk memerangi Syiah Hautsi. Waktu serangan udara tampaknya dikoordinasikan dengan pemberontakan Hautsi, seperti di kota Radaa. Ini semakin memperjelas bahwa Syiah menjadi sekutu bayangan Barat di Timur Tengah.
 
Ketika AS menginvasi Afghanistan, Syiah Aliansi Utara mereka jadikan sekutu utama. Dalam invasi Irak, mereka juga menjadikan Syiah Irak dan Iran sebagai sekutu utama. Sekarang, Syiah di Irak menjadi sekutu penting dalam koalisi Barat melawan Daulah. Iran sudah mulai menampakkan jati dirinya, diberi peran langsung oleh Barat dalam jalinan koalisi.
 
AS sudah lupa tentang sengketa program nuklir dengan Iran. Di sisi lain, Israel tidak ada keluhan tentang hubungan AS-Iran ini. Semua sengketa yang menjurus ke Iran, tiba-tiba hilang tanpa sebuah pengungkitan. Bahkan, Amerika menncapai persetujuan  dengan Iran tentang senjata nuklir di Jenewa. Ini menandakan  Amerika dan Iran telah berdamai.
 
Jadi, asumsi bahwa AS bekerja sama –secara diam-diam—dengan Syiah Alawit Suriah dan Syiah Zaidi Yaman di bawah payung Iran bukanlah sebuah paranoid. Sayangnya, banyak kalangan Muslim hanya tertuju pada ancaman Salafi Arab Saudi, sementara itu mereka ceroboh tentang ancaman Safawi Iran. Padahal, kedua negara tersebut terlibat dalam proyek korupsi yang sama. Kecerobohan ini adalah akar pemberontakan Safawi Syiah di negeri-negeri Sunni.
 
Umat Islam sering terlihat naïf dan bingung –terutama di Barat. Mereka sebagian besar terkena propaganda bahwa mujahidin dibiayai oleh negara-negara Teluk. Padahal permusuhan di antara mereka masih terjadi, di samping fakta bahwa negara-negara Teluk menjadi sekutu setia bagi Barat dalam perang melawan mujahidin.                                                                      
Ini menjadi sebuah pertanyaan, kenapa mereka masih dibingungkan dengan hal demikian. Mereka justru tidak dipusingkan dengan milisi Syiah Hautsi Yaman, Syiah Hizbullah di Suriah, atau tentara Syiah Irak yang semuanya –secara terbuka—didukung dan didanai oleh Iran.
 
Ini harus dipahami semua orang, bahwa rezim-rezim Arab di negara-negara Sunni adalah rezim boneka tirani yang berbahaya dan korup. Rezim ini tidak hanya melindungi kepentingan neo-kolonial Barat d wilayah tersebut. Tapi, mereka sebagai negara Teluk –yang mengaku bermusuhan dengan Syiah—ternyata membangun kolusi dengan Syiah terhadap Ahlus Sunnah.
 
Arab Saudi dan negara Teluk lainnya secara terbuka membantu rezim Syiah di Irak dengan serangan udara terhadap Muslim Sunni. Secara langsung maupun tidak langsung, juga bekerja sama dengan Iran. Bagaimana mungkin mereka menyerang Muslim Sunni di Irak, sedangkan mereka mengaku sebagai penentang Syiah?
 
Tampaknya, pemberontak Syiah Hautsi Yaman secara tidak langsung didukung oleh Arab Saudi melalui mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh yang setelah jatuhnya mengungsi ke Arab Saudi.
 
Apakah perlakuan sama juga ditunjukkan kepada Zainal Abidin Ben Ali, mantan presiden Tunisia? Ali Abdullah Saleh mencoba menggunakan pengaruh politik dan tekanannya terhadap Yaman dengan mendukung pemberontak Hautsi. Dia melakukannya di bawah pengawasan dari Arab.
 
Mereka bisa merencanakan, sedangkan Allah juga mempunyai rencana. Setelah pemberontakan Hautsi, beberapa suku Sunni di Yaman telah bergabung dengan Al-Qaidah –di mana sebelumnya tidak mendukung. Pemberontakan Hautsi dan kekejaman rezim Assad mendorong umat Islam bergabung ke jajaran Mujahidin.
 
Al-Qaidah berhasil mempersenjatai suku-suku Sunni di Yaman dalam berjuang melawan Hautsi dan pemerintah boneka Yaman yang korup. Ini adalah masa depan jihad, jihad yang dipikul bersama oleh seluruh umat Islam melawan musuh berrsama.
 
Di mana rezim-rezim Arab Sunni yang sekarang membantu Syiah Irak ketika umat Islam Gaza dibom dan dibunuh secara brutal oleh Zionis? Di mana mereka, ketika minoritas Muslim di Burma (Myanmar) dibantai dan dibakar oleh umat Budha? Di mana mereka ketika umat Islam Suriah dibantai oleh rezim Assad yang haus darah?
 
Ketika puluhan ribu Muslim Suriah dibantai, rezim-rezim tersebut hanya diam. Ini sudah menunjukkan kemunafikan. Ditambah, mereka memutuskan untuk menjalin koalisi dengan Barat di Mali Utara dengan alasan pembebasan dari kaum ekstrimis. Lantas, di mana mereka saat umat Islam di Republik Afrika Tengah menjadi korban pembersihan etnis? Ini juga terjadi di Afrika, sedangkan mereka hanya menuju ke Mali Utara.
 
Jika mereka menyerbu Mali Utara lantaran ekstrimis yang menindas penduduk lokal, kenapa mereka tidak menyerang Nigeria Utara yang nyata sebagai ekstrimis takfiri Boko Haram yang menewaskan ribuan warga sipil Muslim yang tidak bersalah?
 
Apakah kejahatan perang itu tidak dapat mereka lihat? Ataukah ekstrimisme, radikalisme, terorisme itu hanya sekedar pelabelan yang tertuju bagi mereka yang dikehendaki? Semua ini hanya pertanyaan retoris, di mana kita sudah tahu alasan sebenarnya.                                                 
Pertempuran Kobani mendapat sorotan yang berlebih dari media. Sedangkan bagaimana dengan Suriah? Ratusan bahkan ribuan korban terjadi di Suriah, terkubur karena timpaan bom barel Bashar setiap harinya di kota-kota seperti Duma. Atau, apakah Kobani hanya digunakan untuk mengalihkan perhatian dunia untuk menutupi kejahatan perang ini?
 
Sehingga, penggunaan senjata kimia di Ghouta menjadi terlupakan, padahal telah menewaskan lebih dari 1.700 warga sipil Suriah hanya dalam satu serangan?
Sebuah garis merah ditarik oleh Obama. Sebulan sebelum Kobani diserang, PBB secara resmi memutuskan tidak lagi menghitung korban perang Suriah.
 
Di sini, kehidupan warga Muslim bahkan tidak layak mengisi daftar statistik mereka yang sederhana. Sedangkan di Kobani, Barat benar-benar khawatir terhadap warga sipil di sana? Siapakah yang sebenarnya mereka bodohi?
 
Di mana peran Barat ketika milisi Syiah Hizbullah menyerang Qusayr? Apakah ada yang ingat tentang Qusayr? Apakah ada yang mendengarnya? Amerika Serikat dan Iran telah melakukan kejahatan bersama dan bersekongkol ingn menghancurkan Muslim Sunni.  

Read more ...

Inilah Profil Bhiksu Burma Radikal Biang Penindasan terhadap Muslimin Rohingya


Agama Buddha terkenal dengan ajaranya welas asih. Namun, ketika kita menengok apa yang terjadi di Myanmar, maka hal itu terbalik dengan apa yang mereka dengungkan.
Kaum muslimin Rohingya sudah sekian lama menderita akibat penindasan kaum Buddha yang dipimpin oleh bhiksu radikal. Ahad (29/03/15) kantor berita Rohingya mempublikasikan profil seorang pemimpin spritual Buddha Myanmar yang sangat vokal memprovokasi umat Buddha untuk menindas muslimin Rohingya atas nama menjaga identitas agama Buddha di Myanmar.
Dia adalah seorang Bhiksu Buddha Burma, yang terkenal fanatismenya memusuhi Islam. Ia dianggap sebagai pemimpin spritual bagi gerakan anti muslimin di Burma. Pidato-pidatonya pun sarat akan menyerang kaum muslimin. Majalan Amerika Times menyebutnya sebagai Wajah Terorisme Budha.
Ashin Wirathu dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1968 di daerah Mandalay, Burma. Ashin meninggalkan bangku sekolah pada usia 14 tahun dan menjadi seorang bhiksu.
Pada tahun 2001, ia bergabung dengan gerakan 969. Sebuah gerakan nasionalis budha yang bertujuan untuk menghentian penyebaran Islam, memeranginya dan menjadikan Burma sebagai kiblat bagi orang-orang buddha. Ia juga menyerukan untuk menjaga identitas Buddha di negara-negara Buddha dengan menggunakan kekerasan terhadap kaum muslimin.
Gerakan itu didirikan pada tahun 1999 di salah satu biara orang-orang Buddha oleh sekelompok para bhiksu radikal yang ingin menjadikan Burma sebagai kiblat bagi orang-orang Buddha. Para bhiksu itu mengadakan dauroh-dauroh (pesantren kilat) untuk mengajarkan kepada anak-anak ajaran Buddha. Pada saat itu, gereakan ini merencanakan misi menghancurkan Islam dan muslimin dengan menyulut sentimen keagamaan Buddha dalam rangka menjaga identitas Buddha. Maka, gerakan 969 menjadi ikon perlawanan terhadap Islam.
Angka-angka tersebut memiliki arti sebagai simbol dalam ajaran Buddha, termasuk simbol singa sebagai keberanian, gajah sebagai kekuatan, kuda sebagai kecepatan dan sapi sebagai pertahanan. Adapun angka 969, 9 pertama merupakan simbol karakter khusus bagi Sang Buddha, 6 menunjukkan ajaran-ajaran Buddha yang disebut Dharma dan 9 terakhir menunjukkan 9 karakter Sangha. Buddha, Sangha dan Dharma adalah 3 ajaran inti Buddha.
Wirathu sebagai komandan kampanye provokatif Buddha ekstrem terhadap muslimin minoritas di Burma, yang mengakibatkan pada tahun 2012 dan 2013 pembunuhan dan pengusiran muslimin Rohingya
Pada tahun 2003, Wirathu divonis hukuman penjara selama 25 tahun atas tuduhan provokasi kebencian agama dan kekerasan terhadap muslimin. Ia dibebaskan pada tahun 2012 karena mendapatkan amnesti. Ia kembali ke tempat kelahirannya, Mandalay, untuk menjadi pemimpin spritual gerakan itu.
Meningkatnya jumlah kaum muslimin dijadikan kesempatan oleh Wirathu sebagai bahan untuk menyebar kebencian bahwasanya keberadaan orang-orang Buddha terancam oleh muslimin.
Gerakan 969 menyerukan kampanye mengajak kepada warga penganut Buddha untuk tidak melakukan transaksi dengan orang muslim. Sebagaimana juga Wirathu mengajak untuk membuat undang-undang larangan wanita Buddha menikah dengan muslimin. Hal itu pun disetujui 1500 bhiksu dari berbagai daerah di Burma.
Harian Amerika Journal Post pernah mewawancari Bhiksu Ashin Wirathu. Surat kabar itu menunjukkan bahwa si Bhiksu tidak menyesali tindakan kekerasan terhadap muslimin. Dan perlu diketahui, Presiden Burma, Thein Sein, membela Bhiksu radikal itu ketika Majalah Times menerbitkan majalahnya dengan cover si Bhiksu dengan judul Wajah terorisme Buddha
Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG