Breaking News

Senin, 23 Maret 2015

Lee, Singapura, dan Israel


“Seperti Israel, kami harus melompati tempat-tempat lain di kawasan dan menarik perusahaan-perusahaan internasional,” Lee Kuan Yew.
DI masa pemerintahannya, tidak ada yang tak mengenali Lee Kuan Yew. Pria berjuluk Bapak Pembangunan Singapura ini, telah mengubah kota pelabuhan kecil itu menjadi salah satu negara terkuat di Asia.
Menurut pengakuannya sendiri seperti di atas, Lee Kuan Yew meniru Israel dalam membangun negaranya. Bahkan, sebelum Singapura menjadi negara makmur seperti sekarang, Israel telah memiliki kedekatan dengan Lee.
Herry Nurdi, aktivis Islam anti Zionis mengemukakan dalam artikelnya, Mordechai Kidron, duta besar Israel di Bangkok sejak tahun 1962 sampai 1963 telah mencoba untuk mendekati Lee Kuan Yew dan menawarkan jasa untuk menyiapkan pasukan bersenjata.
Tapi saat itu, Lee Kuan Yew menolaknya dengan beberapa alasan, salah satunya adalah pertimbangan Tuanku Abdul Rahman dan masyarkat Muslim di wilayah Singapura yang kemungkinan tidak akan setuju. Dan jika mereka tidak setuju, menurut Lee, bisa memancing kerusuhan yang tidak terkendali dan merugikan bagi rencana kemerdekaan Singapura.
Tapi akhirnya, Lee melirik tawaran ini. Di saat yang sama, Lee Kuan Yew juga mengirim dan menunggu jawaban dari India dan Mesir.
Ia mengirim surat pada Perdana Menteri India, Lal Bahadur Shastri dan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Dari Mesir Lee Kuan Yew mendapat jawaban, bahwa Nasser menerima dan mengakui kemerdekaan negara Singapura, tapi tidak memberikan jawaban pasti atas permintaan bantuan militer. Dan itu yang memicu kekecewaan Lee Kuan Yew yang langsung memerintahkan untuk memproses proposal Israel untuk menyiapkan militer Singapura.
Tokoh lain yang berpengaruh dalam hubungan Singapura-Israel adalah Goh Keng Swee. Lee Kuan Yew memerintahkan Keng Swee untuk menghubungi Mordechai Kidron, duta besar Israel yang berkedudukan di Bangkok pada tanggal 9 September 1965, hanya beberapa bulan setelah pemisahan Singapura dari Malaysia. Dan hanya dalam beberapa hari, Kidron telah terbang ke Singapura untuk menyiapkan keperluannya bersama Hezi Carmel salah seorang pejabat Mossad.
Bertahun-tahun kemudian Hezi Carmel dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa Goh Keeng Swee berujar kepadanya hanya Israel lah yang bisa membantu Singapura. Israel adalah negara kecil yang dikepung oleh negara-negara Muslim di Timur Tengah, tapi memiliki kekuatan militer yang kecil tapi kuat dan dinamik. Bersama Keng Swee, Kidron dan Hezi menghadap Lee Kuan Yew.
Perlu digarisbawahi di sini, bahwa proposal Israel yang telah diajukan sejak tahun 1960, adalah sebuah hasil dari kajian mendalam tentang masa depan Singapura dan percaturan politik di Asia Tenggara. Bukan Singapura yang aktif untuk meminta Israel masuk, tapi Israellah yang pertama kali menawarkan diri agar bisa terlibat secara aktif di wilayah Asia Tenggara.

Tentu saja ini bukan semata-mata kebetulan, tapi berdasarkan perencanaan yang matang dari gerakan Zionisme internasional. Menempatkan diri bersama Singapura, sama artinya menjadi satelit Israel dan kekuatan Yahudi di Asia Tenggara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG