Breaking News

Minggu, 13 September 2015

Petra Laszlo, Jurnalis Hungaria Menendang dan Menjegal Pengungsi Suriah


Seorang operator kamera dari salah satu TV nasional Hungaria melakukan tindakan yang membikin geram warga netizen. Namanya Petra Laszlo dari N1TV. Dengan enaknya dia menjegal dan menendang para pengungsi dari Suriah yang mencari suaka ke tanah Eropa pada Selasa 8 September 2015.
Pertama dia menjegal dan menendang dua anak kecil Suriah yang sedang berlari karena dikejar para polisi perbatasan di Roszke. Yang kedua, dia menjegal seorang bapak yang sedang menggendong batita. Akibat jegalan Petra, si bapak pun terjatuh dan sempat menindih bayinya. Dengan marah ia memaki-maki si operator kamera yang dengan terus saja memfilmkan kejadian tersebut seolah tak terjadi apa-apa. Benar-benar manusia tak berperasaan. Padahal dia sendiri seorang perempuan yang lazimnya lembut hatinya.  
...Pertama dia menjegal dan menendang dua anak kecil Suriah yang sedang berlari karena dikejar para polisi perbatasan di Roszke. Yang kedua, dia menjegal seorang bapak yang sedang menggendong batita...
20 detik adegan tersebut sempat difilmkan oleh jurnalis Jerman dan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Bahkan ada grup khusus yang membahas kejadian ini dengan tajuk ‘The Petra Laszlo Wall of Shame’ (kelakuan Petra Laszlo yang memalukan). Di Hungaria sendiri kata kunci ‘Laszlo menendang anak-anak’ menjadi ‘headline’ beberapa berita utama.
Pihak N1TV menyatakan bahwa mereka telah memberi sanksi pada Petra Laszlo atas sikapnya tersebut. Tentu saja ini akibat desakan dari netizen yang merasa geram dengan sikap Laszlo yang memalukan tersebut.
Partai oposisi Egyutt dan Koalisi Demokrasi di Hungaria menyatakan bahwa mereka akan mengajukan tuntutan agar Laszlo dipidanakan. Setidaknya hukuman penjara 5 tahun menanti Petra Laszlo apabila gugatan mereka dikabulkan. Kita tunggu saja apakah ancaman mereka ini nyata atau sekadar gertak sambal demi mencari muka di depan publik negaranya sendiri.

Read more ...

Perbanyak Puasa di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah kumpulan hari yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia bersumpah dengannya dan memerintahkan memperbanyak dzikir kepada-Nya di hari-hari tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Wa Layaalin ‘Asr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)
Penafsiran ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir, “Dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: Sepuluh Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)
Dalam Surat Al-Hajj kumpulan hari tersebut disebutkan dengan nama Ayyaam Ma’luumaat agar hamba beriman banyak menyebut nama Allah padanya.
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menukil riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma,  “al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah hari-hari yang sepuluh.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/239)
Maka dapat disimpulkan bahwa keutamaan dan kemuliaan hari-hari yang sepuluh dari Dzulhijjah telah datang secara jelas dalam Al-Qur’an al-Karim yang dinamakan dengan Ayyaam Ma’lumaat karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia.
Anjuran Puasa Pada Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah
Dianjurkan memperbanyak amal-amal shalih pada kumpulan hari awal Dzulhijjah ini secara umum. Seperti, shalat, sohaqoh, shiyam, membaca Al-Qur’an, dzikir, memperbanyak doa, birrul walidain, silaturahim, berbagi kepada tetangga, membantu orang-orang yang kesusahan, menyantuni orang miskin, dan lainnya.
Para ulama memberikan perhatian kepada puasa sebagai salah satu amal istimewa di kumpulan hari tersebut. Misalnya, Imam Al-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis,
باب فضل الصوم وغيره في العشر الأول من ذي الحجة
“Bab Keutamaan Puasa dan selainnya di sepuluh hari pertama dari Dzilhijjah”.
Kemudian beliau sebutkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Dawud dan  Ibnu Majah)
Amal Shalih pada hadits ini bersifat umum. Yaitu mencakup segala bentuk amal shalih, bukan jenis amal tertentu saja. Walaupun sebagian amal-amal tertentu memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan selainnya; seperti haji dan umrah, berkurban, berpuasa, membaca takbir, tahmid, dan tahlil padanya.
Hadits ini menjadi bukti bahwa amal shalih yang dikerjakan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan besar dan dan pahalanya dilipatgandakan.
Hubungan antara bab yang ditulis Imam Nawawi dengan hadits yang dicantumkannya menunjukkan bahwa puasa menjadi salah satu amal istimewa di sepuluh hari ini. Bahkan puasa termasuk salah satu jenis amal shalih yang utama, sebagaimana firman Allah,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ هُوَ لَهُ ، إِلَّا الصِّيَامَ فَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Setiap amal anak Adam adalah miliknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasinya.” (Muttafaq ‘Alaih)
. . . amal shalih yang dikerjakan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan besar dan dan pahalanya dilipatgandakan. . .
Dan yang paling utama dari kumpulan hari ini adalah hari kesembilan darinya yang disebut dengan hari ‘Arafah.
Para ulama sepakat, puasa hari 'Arafah adalah puasa sunnah dalam sehari yang paling utama. Keutamannya diterangkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
"Puasa hari 'Arafah; aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya." (HR. Muslim)
Dalam redaksi lain, "Dan beliau ditanya tentang puasa hari 'Arafah, lalu beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
"Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun sesudahnya." (Muslim)
Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
Adalah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada tangga 9 Dzulhijjah.” (HR. Abu Dawud dan Al-Nasai. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Kesimpulan
Salah satu amal shalih yang istimewa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah berpuasa. Seseorang bisa berpuasa pada sembilan hari pertamanya (tanggal 1 sampai 9), berpuasa pada kebanyakan harinya, atau separuhnya. Jika tidak mampu, maka janganlah meninggalkan puasa pada tanggal 9 nya. Yaitu shaum ‘Arafah.
Bagi yang terbiasa berpuasa bulanan seperti senin – Kamis, puasa Dawud, atau puasa tiga hari setiap bulan; hendaknya menambahkan niat dan semangatnya untuk melaksanakan amal-amal rutinnya itu di awal Dzulhijjah. Menggabungkan dua niat puasa sunnah dalam satu puasa. Berharap Allah akan beri keutamaan lebih dan pahala berlipat. Wallahu A’lam.

Read more ...

COVER MOBIL MURAH MERIAH

Cover Mobil Yang Tidak Seperti Biasanya. Tidak kesempitan dan tidak kebesaran. Elastis dan Modis untuk semua jenis mobil. Pesan sekarang ke BBM 74A54025 atau WA 081325541470. Pesan Bulan ini (September 2015 bebas ongkos kirim).



Read more ...

Selasa, 08 September 2015

Talaqi Kitab Socrates kepada Imam As Syafi’i


Suatu saat seorang dokter bercengkrama dengan Imam As Syafi’i. Sang dokter merasa takjub dengan pengetahuan Imam As Syafi’i mengenai kedokteran. Hingga Sang dokter merasa sedang bercengkrama dengan seorang dokter dari Baghdad, pusat peradaban Islam kala itu.
“Bagaimana kalau Anda menyimak bacaan saya dari bagian buku Socrates?” Sang dokter meminta izin.
Imam As Syafi’i pun tersenyum sambil menunjuk beberapa meridnya, lalu mengatakan,”Mereka tidak membiarkanku melakukan hal itu”.* (Manaqib Imam As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/124)
Read more ...

Ibnu Syamsuddin, Sufi yang Taklukkan Konstantinopel dengan Doa


Imam As Syaukani dalam Al Badr Ath Thali’ menjuluki ulama ini sebagai “As Syaikh Al Arif Billah”. Beliau berasal dari Damaskus kemudian melakukan perjalanan menuju negeri Ar Rum bersama sang ayah. Di negeri itu ulama yang dikenal sebagai Ibnu Syamsuddin ini menuntut ilmu kepada para ulama’nya.
Berminat pada Tasawwuf
Ketika dipercaya sebagai pengajar di negeri Ar Rum, Ibnu Syamsuddin akhirnya cenderung mempelajari ajaran tashawwuf, sebagaimana disampaikan As Syaukani. Ulama yang memiliki nama Muhammad bin Hamzah Ad Dimasyqi ini kemudian mengabdi kepada Syeikh Biram, kemudian berangkat menuju Halab untuk mengabdi kepada Syeikh Zainuddin Al Khafi. Namun beliau kembali berkhidmat kepada Syeikh yang pertama dan dari syeikh ini, memperoleh ajaran tarekat.
“Jadilah beliau, disamping sebagai dokter hati, juga sebagai dokter badan. Sesungguhnya beliau dikenal, bahwa ada tumbuhan yang menyeru kapada beliau dan mengatakan aku adalah obat bagi penyakit si fulan”, demikian tulis Imam As Syaukani.
Ajakan Berjihad oleh Sultan Al Fatih
Kemasyhuran mengenai keshalihan dan kelebihan yang diberikan Allah kepada Ibnu Syamsuddin ini menyebabkan beliau diminta oleh Sultan Muhammad Al Khan yang kelak bergelar Al Fatih untuk ikut berjihad dalam penaklukan Konstantinopel.
Ibnu Syamsuddin pun menyampaikan kepada Sultan Muhammad bahwasannya umat Islam berhasil memasuki benteng Konstantinopel pada “hari begini”. Namun di saat hari itu tiba sang Sultan Muhammad menderita kecemasan berat, karena belum ada tanda-tanda benteng bisa ditaklukkan.
Akhirnya Sultan Muhammad mendatangi Ibnu Syamsuddin di tenda beliau, dan mendapati ulama shalih itu sedang bersujud di atas tanah dengan kepala tanpa penutup, memohon kapada Allah dengan menangis. Kemudian setelah itu Ibnu Syamsuddin pun bangkit dan mengucapkan takbir seraya mengatakan,”Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan pembukaan benteng!”
Perawi kisah ini menyampaikan,”Kemudian aku pergi menuju benteng, aku menyaksikan umat Islam memasuki benteng tersebut”.
Saat itu Sultan Muhammad bergembira, lalu menyampaikan,”Kegembiraanku bukan karena berhasil ditundukkannya benteng, namun aku gembira karena ada laki-laki seperti ini di zamanku!”
Kepatuhan Sultan kepada Ibnu Syamsuddin
Meski seorang sultan yang cukup disegani, Sultan Muhammad patih kepada nasihat Ibnu Syamsuddin. Sehari setelah peristiwa pembukaan benteng Sultah Muhammad mendatangi Ibnu Syamsuddin. Ketika itu, Ibnu Syamsuddin tidak menyambut sultan dengan berdiri, beliau tetap dalam posisi berbaring. Sultan Muhammad pun mencium tangan Ibnu Syamsuddin. Sultan Muhammad meminta izin untuk ikut berkhalwat bersama Ibnu Syamsuddin, namun beliau menolak permintaan tersebut.
“Ada seorang Turki minta izin kepada Anda untuk berkhalwat dan Anda izinkan, sedangkan aku Anda tolak?” Jawab Sultan dengan marah.
“Sesungguhnya jika engkau berkhalwat, maka engkau akan memperoleh kenikmatan yang menyebabkan urusan dunia jatuh di matamu, dengan demikian maka urusan akan kacau. Padahal khalwat berguna untuk menciptakan keseimbangan”, jawab Syeikh Ibnu Syamsuddin.
Dalam pertemuan itu akhirnya Syeikh Syamsuddin memberi nasihat kepada Sultan Muhammad untuk melakukan beberapa perbuatan.
Penemuan Makam Sahabat
Sultan Muhammad Al Fatih pernah membaca dalam kitab sejarah bahwa makam Abu Ayub  terdapat di dekat benteng Konstantinopel. “Mudah-mudahan aku bisa menemukannya”, jawab Ibnu Syamsuddin ketika dimintai petunjuk tentang makam tersebut.
Setelah itu Sultan Muhammad pun mendesak agar Ibnu Syamsuddin menunjukkan makan tersebut,”Aku percaya kepada Anda namun aku ingin mengetahui tanda-tandanya makam itu dengan mata kepala sendiri”.
Akhirnya Ibnu Syamsuddin memerintahkan Sultan Muhammad untuk menggali tanah yang telah ditunjukkannya sedalam dua hasta, seraya berkata, ”nanti engkau menemukan marmer yang tertulis di atasnya”. Ternyata setelah tanah tersebut digali sedalam dua hasta ditemukan marmer dengan tulisan di atasnya. Dari tulisan itu diketahui bahwa itu adalah makam Abu Ayub.
Menyaksikan peristiwa itu, Sultan Muhammad pun hampir roboh karena dominasi perasaan kebingungan.
Karya Syeikh Ibnu Syamsuddin
Tidak hanya dikenal dengan kelebihan karamah-karamahnya, dalam keilmuan Ibnu Syamsuddin meninggalkan beberapa karya, antara lain risalah mengenai tashawuf. Juga risalah pembelaan terhadap serangan pemikiran terhadap para sufi serta risalah mengenai ilmu kedokteran. (Tulisan ini diambil dari Badr At Thali’ karya Imam As Syaukani, 2/168)
Read more ...

Sabtu, 29 Agustus 2015

Imam As Syafi’i Malu Ketika Tak Bisa Memberi untuk Peminta

IMAM AS SYAFI’I pada suatu saat berjalanan dengan tunggangannya. Di saat yang bersamaan datanglah peminta. Rasa malu tidak bisa disembunyikan dari wajah Imam As Syafi’i ketika ia tidak bisa memberikan kebutuhan si peminta.
“Dimana engkau tinggal, agar aku bisa memberikan kabutuhanmu itu?” Tanya As Syafi’i kepada si peminta.
Setelah si peminta member tahu latak rumahnya, Imam As Syafi’i pun kembali ke rumahnya untuk mengambil apa yang dibutuhkan si peminta lalu mengirimnya ke rumahnya.* (lihat, Manaqib As Syafi’i li Al Baihaqi, 2/235)
Read more ...

Jadikan Tahlilan Sebagai Barometer Pancasilais adalah Pemikiran Sempit

Tahlilan adalah khilafiyah. Dan menjadikan masalah khilafiyah sebagai kriteria pancasilais adalah sikap yang justru tidak pancasilais


“Ucapan Dr Aqil Siraj yang menyatakan jika anti tahlilan berarti pancasilanya diragukan menunjukkan pikirannya yang sempit,” tegas Adnin dalam rilisnya yang diterima hidayatullah.com,Sabtu (29/08/2015) pagi.
Pernyataan Adnin ini disampaikan guna menanggapi pemberitaan sebelulumnya,  dalam acara halaqah kebangsaan bertema “Pancasila Rumah Kita: Perbedaan adalah Rahmat” di Aula Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Dalam halaqah itu, Saiq Aqil sempat mengatakan bahwa orang yang tahlilan pancasilanyamantap, sedang yang anti tahlilandiragukan. 
Menurut Adnin, pernyataan seperti itu hanya akan melukai hati bangsa Indonesia yang tidak mengamalkan tahlilan. Sebab, lanjutnya, banyak warga negara Indonesia yang tergabung dalam berbagai ormas seperti Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, Dewan Da’wah dan sebagainya yang tidak mengamalkan tahlilan.
Adnin menyebutkan bahwa banyak tokoh umat Islam baik itu yang dahulu maupun sekarang, yang tidak diragukan perjuangannya pada Indonesiaan tetapi mereka sekaligus tidak mengamalkan tahlilan.
“Misalnya, tokoh-tokoh bangsa dari Muhammadiyah termasuk yang merumuskan Pancasila adalah tokoh tokoh yang tidak mengamalkan tahlilan,” kata Adnin.
Ia menyebut beberapa nama pejuang kemerdekaan yang mayoritas adalah ulama dari Muhammadiyah.  Ia mencontohkan, Prof Dr Mr Raden Kasman Singodimejo, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir yang terlibat langsung dalam Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junby Cosakai/BPUPKI).
Menurutnya, sispa yang berani meragukan nama-nama ini dalam pembelaan pada Negara dan Bangsa?
Lebih lanjut, menurut Adnin,  masalah tahlilan adalah khilafiyah. Dan menjadikan masalahkhilafiyah sebagai kriteria pancasilais adalah sikap yang justru tidak pancasilais.
“Aqil tidak bijak menjadikan tahlilan sebagai barometer pancasilais,” pungkas Adnin
.
Read more ...

Empat Adab dalam Menuntut Ilmu

Ulama bernama Sahnun berkata: "Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan"



ADAB mencari ilmu selama ini sering diabaikan. Hubungan antara murid dan guru tak ubahnya penjual dan pembeli. Si murid merasa telah membayar SPP dan uang gedung dengan nilai nominal yang tidak murah sehingga penghormatan kepada guru dianggap sebagai hal yang bukan acuan utama.
Kini, saatnya kita kembali mendulang adab-adab mencari ilmu yang telah dipanggungkan oleh para ulama sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya pada tataran duniawi, namun juga pada tataran ukhrawi.
Habib Zain bin Ibrahim bin Sumait dengan ketajaman analisa dan penanya, mementaskan empat adab bagi pencari ilmu.
Adab pertama bagi seorang pencari ilmu ialah menyucikan hati dari segala pelanggaran-pelanggaran yang dimurkai Allah.
Adab pertama ini memberi gambaran kepada kita bahwa sebelum memulai aktivitasnya, terlebih dahulu seorang pencari ilmu mengevaluasi kondisi hati. Adakah penyakit hati yang masih mengendap dalam dirinya sehingga ia harus membersihkannya terlebih dahulu?
Imam Nawawi dalam mukaddimhn Syarh Al-Muhadzdzab berkata: “Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu menyucikan hatinya dari kotoran-kotoran sehingga ia layak menerima ilmu, menghafal, dan memanfaatkannya.”
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad memberi perumpaan yang sungguh indah tentang hati yang kotor. Beliau mengatakan, “Jika seseorang datang dengan membawa sebuah wadah kotor untuk diisi madu di dalamnya, maka orang yang akan membeli madu tersebut pasti akan berkata, Cucilah terlebih dahulu wadah yang kotor ini, baru kamu isi dengan madu.”
Kata Imam Abdullah, “Dalam masalah dunia saja, wadah yang kotor perlu dibersihkan, maka bagaimana dapat rahasia-rahasia ilmu Allah itu justru diletakkan di dalam hati-hati yang dekil?”
Pada satu kesempatan, Imam Malik memberi nasihat kepada muridnya Imam Syafi`i. Kala itu, Sang Guru merasa takjub dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Syafi`i. Nasihat tersebut bunyinya, “Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Jauhilah maksiat. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah meletakkan cahaya di dalam hatimu maka janganlah kamu padamkan dengan maksiat-maksiat kepada-Nya.”
Adab pertama ini merupakan langkah awal bagi para pencari ilmu, tak terkecuali para guru, untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang malah menjadi penghalang masuknya ilmu dalam sanubari.
Ilmu tidak terletak pada ijazah, raport, dan gelar akademik semata, tapi pada manfaat dan amal sebagai buahnya ilmu. Dan, itu tak akan mungkin terwujud tanpa hati yang bersih.
Adab kedua, menurut Habib Zain, adalah ikhlas karena Allah di dalam mencari ilmu. Seseorang tidak diperkenankan mencari ilmu dengan kemuliaan diri yang melekat. Seorang pencari ilmu mesti ikhlas karena Allah. Dengan modal ikhlas tersebut, ia berusaha membuat hati gurunya ridha mengangkat dan mengakui sebagai murid setianya.
Suatu hari, Abdullah bin Abbas membawa tali pengikat kendaraan gurunya Ubay bin Ka`ab. Ia tuntun kendaraan gurunya itu. Sang guru bertanya, “Ada apa ini, wahai putra Abbas?” Dijawab, “Demikianlah kami diperintahkan untuk menghormati guru-guru kami.” Abdullah tetap memandu jalannya kendaraan sang guru sampai ke tempat tujuan.
Sufyan bin Uyainah berkata, “Saat aku berusia empat tahun, aku telah dapat membaca Al-Qur`an. Saat berusia tujuh tahun, aku telah dapat menulis hadits. Saat berusia lima belas tahun, ayahku berkata kepadaku:
‘Wahai anakku, sekarang engkau telah beranjak dewasa. Maka lakukanlah kebaikan niscaya engkau akan termasuk sebagai ahli kebaikan. Ketahuilah, seseorang tidak akan diberi kebahagiaan berkumpul dengan para ulama kecuali orang yang taat kepada mereka. Maka taatilah para ulama, niscaya engkau akan memperoleh kebahagiaan. Berkhidmatlah kepada mereka, pasti engkau akan mendapatkan ilmu mereka.’
Kata Sufyan, “Sejak mendengar nasihat ayahku tersebut, aku selalu condong kepada para ulama, tidak berpaling sedikitpun dari mereka.”
Adab kedua memberi pengertian bahwa pencari ilmu mesti menanggalkan kebanggaan nasab, kedudukan, dan harta yang ia miliki. Ia lepaskan demi terjun secara total meraih ilmu lewat para guru dan ulama dengan penuh keihlasan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Adab ketiga yang harus ada pada diri penuntut ilmu adalah mengambil faedah (manfaat) di mana saja berada. Pencari ilmu mesti jeli melihat, mengamati, dan meraih manfaat dari tiap jengkal langkah hidupnya. Tidaklah berlalu sesaat dari umurnya, kecuali ia isi dengan kemanfaatan.
Abu Al-Bakhtary berkata: “Duduk bersama suatu kaum yang lebih mempunyai ilmu daripada saya, lebih saya sukai tinimbang bersama kaum yang derajat ilmunya di bawah diriku” Mengapa? Jawabnya, “Karena, jika aku duduk bersama kaum yang derajat pengetahuannya di bawahku, aku tidak bisa mengambil manfaat. Namun jika aku duduk bersama orang-orang yang lebih berilmu dari diri saya ini, aku bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.”
Adab keempat yang disebutkan oleh Habib Zain adalah bersikap sederhana dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Makan dan minum adalah kebiasaan siapa saja. Manusia makan dan minum untuk hidup. Namun hal demikian tidak lantas menjadi alasan untuk berlebih-lebihan, khususnya bagi pencari ilmu.
Bahkan, seorang ulama bernama Sahnun berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan.”
Dalam wasiat penuh hikmah dari Lukman Al-Hakim kepada putranya, ia berkata: “Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh pikiran akan tertidur, hikmah akan berhenti mengalir, dan badan akan lumpuh dari beribadah.”
Imam Syafi`i berkata, “Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam. Karena kekenyangan itu membebani badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membuat kantuk, dan melemahkan orang tersebut dari beribadah.”
Demikianlah empat etika yang dipaparkan oleh Habib Zain seputar adab bagi manusia-manusia yang menceburkan dirinya dalam lautan ilmu. Ambillah ilmu yang hendak kita miliki sebanyak-banyaknya namun janganlah kita absen dari adab. Dengan empat adab tersebut, ilmu menjadi berkah untuk semua
Read more ...

Selasa, 18 Agustus 2015

18 Agustus 1945, Sehari Setelah Proklamasi, Umat Islam Dikhianati


Umat Islam di negeri ini tak akan pernah lupa, betapa politik kaum sekular begitu khianat dengan menelikung kesepakatan luhur (gentlement agreement), Piagam Jakarta. Sehari paska kemerdekaan, lobi-lobi politik kelompok sekular dan Kristen berhasil menghapuskan sebuah tonggak sejarah bagi penegakan syariat Islam di negeri ini.
Tgk Daud Beureueh
Ya, hanya sehari pasca proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan disebarluaskan ke seluruh penjuru negeri, tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa ini pada 22 Juni 1945, yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dihapuskan oleh tipu licik kelompok yang tidak menginginkan syariat Islam tegak di negeri ini.
Inilah tragedi besar dalam sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, yang pada masa revolusi fisik berjuang dan bercita-cita, jika nanti negeri ini merdeka, mereka menginginkan kemerdekaan ini dilandaskan pada sistem Islam. Tak heran jika, Haji Agus Salim, tokoh nasional bangsa ini, dengan lantang dan tegas mengatakan, cita-cita kemerdekaan bangsa ini adalah kemerdekaan dalam bingkai dan semangat keislaman.
Apakah ini sebuah cita-cita yang berlebihan? Silakan bentangkan fakta-fakta sejarah dengan kejujuran, siapa sesungguhnya yang lebih banyak berjuang dan menggerakkan perlawanan dalam mengusir penjajah?  Siapa yang merekatkan tali persatuan dalam menggelorakan semangat perjuangan mengusir bangsa asing yang datang merampas kekayaan negeri ini?
Inilah bentangan fakta-fakta sejarah yang bisa menjawab pertanyaan tersebut…
Perlawanan umat Islam misalnya bisa dilihat dalam perjuangan yang dilakukan KH Zainal Musthafa di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kiai Subki di Wonosobo, Imam Bonjol di Sumetera Barat (1821-1837), Pangeran Diponegoro (1825-1830), Perang Sabil di Aceh (1837-1904), serta perlawanan para sultan dari kerajaan-kerajaan Islam yang mengerahkan pasukannya untuk mengusir penjajah. Semua perang yang terjadi bersukma dari seruan jihad, dengan motor penggerak para pejuang Islam.
Perang Sabil yang berlangsung di Aceh, dan digerakkan oleh Teungku Cik Di Tiro, Tengku Umar dan Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1904 misalnya, adalah jihad melawan apa yang disebut oleh mereka sebagai kape-kape(kafir-kafir) Belanda. Perlawanan sengit yang dalam catatan sejarah terekam dalam hikayat perang Sabil itu mampu menjadikan Aceh sebagai daerah yang sulit ditaklukkan oleh penjajah.
Dr Mohammad Natsir
Saat kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah bertekuk lutut pada bangsa kolonial, yaitu Inggris, Portugis, dan Belanda, daerah berjuluk Serambi Mekkah itu justru sulit ditaklukkan hingga akhir abad ke-18. Ruhul jihad rakyat Aceh yang tangguh menggema hingga pelosok Nusantara.
Pada masa selanjutnya, para ulama Aceh, di antaranya Tengku Muhammad Daud Beureueh, terus menggelorakan semangat jihad melawan penjajah. Daud Beureueh menyebut perlawanannya sebagai “perang Aceh dalam bentuk baru”, dengan terlebih dahulu menyiapkan kader-kader pejuang yang sebelumnya digambleng dalam pusat-pusat pendidikan Islam (dayah).
Dari dayah inilah lahir pejuang-pejuang tangguh yang berperan aktif mengusir penjajah, baik menjelang pendudukan militer Jepang, maupun pada masa revolusi tahun 1945.
Tengku Daud Beureueh yang juga tokoh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), mengorganisir gerakan bawah tanah untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda di seluruh pelosok Tanah Rencong. Maka, pada tahun 1942, pecah perlawanan di beberapa wilayah Aceh yang dimotori para ulama, hingga seluruh tentara Belanda hengkang dari tanah Aceh.
Selain itu, semangat untuk mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta,  juga terus diserukan oleh para ulama di Serambi Makkah.
Buya HAMKA saat masih muda
Pada  15 Oktober 1945, seruan untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang berusaha merebut Pangkalan Brandan di Sumatera Utara, bergema di Aceh. Para ulama yang terdiri dari Tengku Haji Hassan Krueng Kalee, Tengku Haji Muhammad Daud Beureueh, Tengku Haji Jakfar Shiddiq Lamjabat, dan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, mengeluarkan seruan jihad kepada rakyat Aceh untuk berjuang mengangkat senjata melawan penjajah.
H Agus Salim
Berikut isi seruan para ulama tersebut:
“…Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan Soekarno. Belanda adalah satu kerajaan kecil serta miskin. Satu  negeri yang kecilnya, lebih kecil dari negeri Aceh yang hancur lebur. Mereka telah bertindak melakukan pengkhianatan kepada tanah air kita Indonesia yang sudah merdeka untuk dijajah kembali. Kalau maksud jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas segala harta benda negara dan harta rakyat, dan segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah. Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia dan menjalankan usaha untuk menghapus Islam kita yang suci serta menindas dan menghambat kemuliaan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Menurut keyakinan kami, perang ini adalah perjuangan suci yang disebut ‘Perang Sabil’…”
Selain di Aceh, kontribusi dan pengorbanan umat Islam juga menjadi spirit kemerdekaan di beberapa daerah lain di tanah air. Dalam catatan sejarawan Muslim, Ahmad Mansyur Suryanegara, proklamasi Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945, dan bertepatan dengan 19 Ramadhan 1364 H, juga tak lepas dari dorongan para ulama kepada Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Mansyur, sebelum memproklamasikan kemerdekaan, Bung Karno menemui para ulama, di antaranya para ulama di Cianjur Selatan, KH Abdul Mukti dari Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama.
Tapi apa mau dikata, air susu dibalas air tuba. Piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi kaum Muslimin di negeri ini, dihapuskan sehari setelah proklamasi. Padahal, menurut keterangan Jenderal Abdul Haris Nasution, Piagam Jakarta lahir di antaranya berdasarkan dorongan dari ratusan ulama yang menginginkan umat Islam hidup diatur dengan syariat Islam.
Jenderal Besar AH Nasution
Karena itu, Jenderal Besar AH Nasution pernah menyatakan, “Dengan hikmah Piagam Jakarta itu pulalah selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur…”
Inilah pengkhianatan yang sungguh memilukan bagi umat Islam. Allahyarham Dr Mohammad Natsir menyatakan, tanggal 17 Agustus 1945 kita bertahmid, mengucap syukur karena negeri ini telah diberi kemerdekaan atas rahmat Allah SWT. Namun, sehari setelah itu, kata Natsir, umat Islam beristighfar, karena perjuangannya selama ini dikhianati.
Bahkan, dengan kalimat yang lebih tegas, Allahyarham Buya Hamka pernah menyatakan, “Mari kita berpahit-pahit, kaum Muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”
Jadi, mari kita kembalikan Indonesia pada dasar Islam, pada semangat dan perjuangan menegakkan Islam!
Read more ...

KAPANKAH, ORANG TUA HARUS BERKATA TIDAK?


Tidak seharusnya semua keinginan anak harus dituruti, apalagi jika keinginan tersebut tidak memiliki manfaat sama sekali. Tapi sebagai orang tua, terkadang merasa kasihan jika melihat buah hatinya menangis meminta sesuatu.
Ketahuilah para orang tua, kita haruslah menanamkan suatu nilai kehidupan yang sangat berarti untuk dia. Yaitu, bahwa semua yang dia inginkan tak selamnya bisa dia dapatkan. Oleh karena itu, ada kalanya harus bilang tidak! Terus kapan harus bilang seperti itu?
Meskipun begitu, para orang tua juga jangan sampai merampas hak anak. Misalkan, jangan katakan ‘tidak’ ketika anak meminta sesuatu yang sudah menjadi haknya. Contoh, anak yang meminta untuk bermain setelah dia selesai mengerjakan PR, karena bermain adalah hak mereka dan sebagai orang tua kita tidak boleh melarangnya. Lain halnya jika dia meminta untuk dibelikan mainan, padahal baru minggu yang lalu dibelikan. Disinilah, kita harus berkata ‘tidak’ sambil menjelaskan padanya kenapa dia tidak bisa mendapatkannya.
Penjelasan tersebut bertujuan agar dia paham bahwa penolakan yang kita lakukan tersebut bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli dengan mereka. Selain itu juga, berusahalah untuk menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat untuk menunjang proses belajarnya.
Perlu diingat juga bahwasanya lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan psikologi anak. Jadi, selalu nasehati anak-anak kita untuk memilih teman bergaul yang berakhlak baik. Intinya selalu kontrol serta biasakan mereka untuk mau bercerita tentang kegiatan yang dilaluinya. Oleh karena itu, kita juga harus bisa berperan sebagai sahabatnya.
Demikian, semoga bermanfaat.
Read more ...

4 Amalan Yang Bisa Buang Kesedihan


SEDIH merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satupun manusia bisa lepas dari kepedihan, termasuk para Nabi dan Rasul. Semua hampir bisa dipastikan pernah mengalami yang namanya lara.
Nabi Ya’kub sampai kehilangan penglihatan karena menahan amarah kepada saudara Nabi Yusuf dan kepedihan karena kehilangan Nabi Yusuf Alayhissalam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam pun tak sanggup untuk tidak bermuram durja kala kehilangan istri dan paman tercintanya, Abu Tholib.
Namun demikian kesedihan Nabi dan Rasul tidak melampaui batas, sehingga kepedihan tidak melemahkan iman. Namun, masih ada sebagian dari umat Islam yang belum memahami batas-batas kesedihan, sehingga sebagian larut dalam kegundahan sampai-sampai ada yang berubah sikap dan karakter secara signifikan bersebab kepedihan yang diturutkan.
Biasanya, yang mengalami keadaan seperti itu adalah mereka yang gersang jiwanya, lemah agamanya dan minim pengetahuannya, tetapi besar harapan dan angan-angannya, sehingga kala apa yang sangat dicintainya hilang, ia seperti tak punya pegangan. Ada yang menjerit-jerit, stress bahkan gila dan putus asa, hingga bunuh diri.
Semua itu tidak lepas dari rasa cinta yang begitu besar terhadap selain Allah Ta’ala. Mulai dari kecintaan terhadap diri sendiri, harta dan tahta. Dan, orang yang sedih karena hal-hal tersebut tidak sedikit.
Oleh karena itu, penting bagi seorang Muslim mengerti bagaimana terbebas dari rasa cinta yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kesayuan tak tertahankan, yang jika tidak diwaspadai justru bisa mematikan iman.
Pertama, pelihara dan perkuat iman
Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).
Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa, bagi orang-orang yang beriman diberikan kesudahan yang baik dan pertolongan dari Allah.
Seperti apa yang Allah berikan kepada Nabi Yusuf Alayhissalam, kala beliau mesti mengalami takdir terpisah dari ayah, keluarga dan kampung halamannya dalam kurun yang begitu lama, dengan bekal iman, akhirnya Allah pertemukan Nabi Yusuf kembali dengan ayah dan keluarganya dalam keadaan yang kuat lagi bermartabat, baik di sisi manusia dan di sisi Allah.
Bagaimana Nabi Yusuf menjaga dan mempertangguh keimanannya, bisa kita lihat pada keteguhan hatinya dalam mengedepankan iman.
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf [12]: 33).
Dengan kata lain, iman akan menghindarkan seorang Muslim dari kebodohan dan kesedihan yang tidak beralasan, sehingga hidupnya, meski secara kasat mata tampak tidak bahagia, hakikatnya hatinya teguh, perkasa dan optimis akan pertolongan-Nya.
Kedua, istiqomah
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat [41]: 30).
Ibn Katsir menjelaskan, ayat tersebut menghendaki agar umat Islam memurnikan amal untuk Allah dan beramal karena taat kepada Allah Ta’ala atas apa yang disyari’atkan-Nya kepada mereka (sepanjang hayat).
Dalam konteks operasionalnya setiap 24 jam, tentu umat Islam mesti konsisten dalam mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat, dan beramal sholeh (QS. Al-Baqarah: 277) dalam segala situasi dan kondisi. Sebab, pada akhirnya, kabar gembira berupa surga akan Allah berikan kepada siapa saja dari umat Islam yang benar-benar istiqomah.
Ketiga, dekat dengan Al-Qur’an
قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS: Al-Baqarah [2]: 38).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat itu memerintahkan agar umat Islam benar-benar dekat dan akrab dengan Al-Qur’an disertai komitmen meneladani Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam. Dengan seperti itu, setiap diri dari umat ini akan terberbas dari kesedihan karena urusan dunia yang luput dari tangannya.
Sungguh tidak mengherankan jika para sahabat dan ulama terdahulu begitu cinta dan bangga membaca, mengkaji dan mengamalkan Al-Qur’an.
Keempat, ittiba’ Rasulullah Shallalahu Alayhi Wasallam
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS:  Al-A’raaf [7]: 35).
Makna khusus ayat tersebut tentu berlaku kepada umat Islam, yang sudah semestinya dalam hidupnya mesti ittiba’ (mengikuti) Rasulullah dalam segala situasi dan kondisi. Adapun implementasinya adalah bagaimana setiap Muslim senantiasa bertakwa dan tidak melakukan apapun melainkan perbaikan demi perbaikan bagi umat, rakyat, bangsa, agama dan negara, sebagaimana yang telah Rasulullah teladankan.
Empat amalan dalam uraian ini adalah sebagian dari makna-makna dan panduan yang gamblang dari Al-Qur’an agar setiap Muslim terbebas dari kesedihan yang kontraproduktif. Andaikata pun sedih itu merasuk dalam hati karena alasan yang fitrah, tentu setelah kesedihan itu akan semakin menguatkan keimanan, sehingga hidup akan semakin progressif dalam iman dan takwa, bukan malah retrogressif. Wallahu a’lam
Read more ...

Minggu, 16 Agustus 2015

Inilah Doa Lengkap KH. Choirul Muna di MPR Yang Bikin Setan Kepanasan


Dalam sidang Paripurna MPR 2015 pada Jumat lalu (13/5), anggota DPR dari Fraksi Partai Nasdem, KH Choirul Muna, diberi amanah untuk memimpin doa. Sampai sekarang, doa yang dibawakan kiai muda itu masih hangat dibicarakan oleh banyak kalangan, baik dalam percakapan di dunia nyata maupun di dunia maya internet. Banyak yang memuji isi doa tersebut, tapi juga banyak yang tampaknya “kepanasan” dengan isi doa itu.

Doa itu sendiri berisi permintaan-permintaan yang baik demi kemajuan bangsa dan negara ini. Jadi, kalau ada yang “kepanasan” dengan isi doa yang baik itu tentulah setan. Bukankah setan tidak menyukai kebaikan yang dibuat anak manusia? Demikian yang dilansir pribuminews. Berikut isi lengkap doa tersebut.
Bissmillahirrahmannirrahiim, alhamdulillahi rabbilalamin…. Ya, Allah, ya, Wahid, Tuhan yang Maha Esa, segala puji dan syukur ke hadirat-Mu. Tiada henti kami panjatkan syukur atas segala nikmat dan inayah-Mu.
Ya, Allah, anugerahkan kami taufik dan hidayah agar selalu mengabdi kepada-Mu. Tuntunlah kami ke dalam akhlak mulia dan jauhkan kami dari sikap pongah dan zolim yang menyebabkan murka-Mu.
 Ya, Allah, memasuki usia Republik Indonesia yang ke-70 tahu, kami menundukkan kepala dan berdoa atas segala rahmat dan anugrah-MU, ya, Allah.
Ya, Allah, ya, Rahman, ya, Rahiim, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di hari-hari ini, kami menghadapi beragam ujian berat, mulai dari alam yang kurang bersahabat, kekeringan di mana-mana, harga kebutuhan pokok yang masih melangit, ekonomi yang belum pulih, hingga penegakan hukum yang mencederai rasa keadilan rakyat. Sungguhpun begitu, segelintir penguasa masih acuh tak acuh, tak peduli kesengsaraan rakyat, sehingga rakyat semakin berang, jengkel, dan galau. Karena, mereka tak memberikan suri teladan.
Ya, Allah, ya, Hayul, ya, Qoyum, Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Mandiri. Anugerahkanlah kekuatan lahir dan bathin kepada rakyat Indonesia untuk tabah dan  tegar dalam menghadapi cobaan dan ampunilah segala dosa-dosa kami. Berikanlan ketabahan dan rasa optimisme bahwa cepat atau lambat Indonesia semakin jaya, adil, makmur, aman, dan sentosa.
Ya, Allah, ya, Fattah, Tuhan yang Maha Pembuka. Bukalah pintu hati pemimpin kami agar mereka selalu amanah dan bertanggung jawab atas segala tugas yang diembannya. Bukakanlah selalu hati pemimpin kami, agar pada setiap embusan napas mereka hanya memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat yang sangat letih menghadapi kesulitan hidup kesehariannya.
Ya, Allah, ya, Barii, Tuhan yang Maha Membebaskan. Bebaskanlah kami dari berita-berita bohong, janji-jani palsu, dan harapan-harapan kosong, karena sesungguhnya tidaklah elok mereka memanipulasi dan menipu rakyat yang menderita, sengsara, dan hampir berputus asa.
Ya, Allah, ya, Malikul Mulk, Tuhan yang Merajai Segala Raja. Jangan biarkan kami terpecah-belah dan saling memusihi. Karena, tanpa disadari, kami telah menjadi alat segelintir manusia yang tak ingin melihat bangsa kami bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, berkonstitusi Undang-Undang Dasar 1945, hidup rukun, dan memiliki rasa toleransi serta mampu memaafkan sesamanya di lingkungan Bhinneka Tunggal Ika.
Ya, Allah, ya, Sobur, Tuhan yang Maha Sabar. Hanya kepada-Mu, kami berserah total, pasrah menerima cobaan dan karunia-Mu, ya, Allah.
Ya, Allah, sudah lama rakyat kami bersabar, meskipun mereka miskin harta, tapi kaya jiwa, sehingga mampu memafkan mereka yang menyengsarakan hidupnya.
Ya, Allah, jadikanlah rakyat Indonesia berada pada negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrrem kerto raharjo.
Ya, Allah, ya, Ghofur, Tuhan yang Maha Memaafkan. Berikanlah kami pemimpin sejati, yang satu kata dengan perbuatan dan yang insyaf dan ingin tobat. Karena, sesungguhnya Engka Maha Penerima Taubat. Anugerahkanlah pemimpin-pemimpin kami agar senantiasa memiliki kepekaan dan kesalehan sosial, kewarasan pikiran, dan kebeningan hati nurani. Jangan biarkan mereka tersesat melakukan korupsi, suatu perbuatan tercela, terhina, dan begelimang KKN hingga mereka mabok kepayang, riya, takabur, dan pamer kuasa.
Tuhan yang Maha Kuasa, sirami hati nurani mereka untuk terus bermuhasabah, mengoreksi diri sendiri, dan hendaknya selalu peduli pada derita insani Indonesia.
Ya, Allah, tumbuhkanlah kesadaran kolektif di sidang tahunan MPR RI yg mulia ini, agar kami lebih sadar, insyaf,dan tetap rendah hati menjadi hamba-Mu, ya, Allah, dan selalu siap memperjuangkan nasib rakya Indonesia.
Ya, Allah, semoga kami termasuk golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu dan dijauhi dari siksa api neraka.
Allahummaj ‘alni baldatana Indonisia, baldatan wa amilatan muthmainnatan thoyibatan rohhiyatan….Aamii
n
Read more ...

Kamis, 13 Agustus 2015

Kisah Mualaf Theresa Carter: Hijab Membuatku Jadi Diri Sendiri


Sebelumnya, aku tak pernah berbagi kisah tentang proses berislamku ini. Meskipun sudah 10 tahun berislam, rasanya aku masih merasa baru. Itu karena di tahun-tahun awal, aku tak begitu paham Islam dengan baik. Akhir-akhir ini saja aku mengenal Islam dengan baik dan merasa damai serta utuh menjadi muslimah. Alhamdulillah.
Aku mengenal Islam di tahun kedua kuliah. Saat itu ada laki-laki yang sangat berbakat dari Lebanon di kelas seni. Apapun yang dia gambar selalu indah dan terlihat keluar begitu saja dari dalam dirinya. Karena aku sangat menyukai seni dan keindahan yang dihadirkannya, laki-laki ini berhasil membuatku penasaran.
Saat itu aku adalah seorang Katolik yang taat. Hingga setahun kemudian, aku baru tahu kalau laki-laki yang kukagumi ini beragama Islam. Tapi latar belakang agama yang berbeda tak menghalangi kami untuk menjalin pertemanan. Bahkan diperkenalkannya aku kepada keluarganya. Menurutnya, aku adalah teman perempuan pertama yang dibawanya ke rumah. Semakin aku paham Islam, ternyata hubungan laki-laki dan perempuan itu sebetulnya tidak boleh saling ‘berteman’ seperti ini apalagi sampai pacaran. Ini betul-betul hal baru bagiku.
...Semakin aku paham Islam, ternyata hubungan laki-laki dan perempuan itu sebetulnya tidak boleh saling ‘berteman’ seperti ini apalagi sampai pacaran...
Dari laki-laki ini juga aku mengenal Islam lebih dalam. Dia bahkan merekam aktivitasnya ketika salat dan diberikannya kepadaku untuk kutirukan di rumah. Seiring dengan mengajariku Islam, pemahaman dia tentang Islam sendiri juga makin bertambah sehingga dia sendiri juga makin relijius. Aku pun belajar Islam dari video, dari buku tentang tata cara belajar salat baik yang sudah diterjemahkan bahasa Inggris maupun yang transliterasi bahasa Arab, hingga mencoba salat sendiri. Aku juga mulai belajar berhijab dan memakai baju yang longgar.
Ketika aku mencoba melafalkan bacaan salat dalam bahasa Arab, tiba-tiba saja muncul gelombang damai dalam hatiku yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti alunan ombak yang tenang di tengah samudera. Dan ketika aku mulai mendirikan salat, terasa seperti ada gula di dalam tubuhku. Terasa manis sekali untuk dirasakan. Mungkin karena aku melakukan ini semua demi untuk mengenal Allah lebih jauh.
Dalam perjalananku berislam, aku bertemu dengan seorang muslimah bernama Esraa. Pertama kali aku berhijab, aku merasa sangat malu dan tidak nyaman hingga momen bertemu Esraa secara tak sengaja di tempat kerjanya (dia bekerja di salah satu tempat cuci-cetak foto). Kebetulan aku ke sana untuk mencuci-cetak fotoku. Saat itulah kulihat dia dengan hijabnya terlihat begitu cantik. Aku kagum dengan bagaimana dia memakai hijabnya dengan sederhana.
...Hijab itulah yang membuatku menjadi diri sendiri. Kepribadianku yang sederhana seolah terpancar cemerlang melalui hijab tersebut...

Meskipun pemalu, aku adalah tipe yang mudah sekali memuji orang lain apalagi bila memang dia layak mendapat pujian. Aku pun memuji Esraa dengan hijabnya tersebut. Ketika memutuskan untuk kembali ke Mesir, hijab itu diberikan Esraa padaku. Hijab itulah yang membuatku menjadi diri sendiri. Kepribadianku yang sederhana seolah terpancar cemerlang melalui hijab tersebut.
Aku dan Esraa pun berteman baik. Ayah Esraa mengajariku berbuka puasa dengan kurma dan susu. Beberapa kali mereka mengundangku untuk berbuka puasa bersama di tahun pertama aku mengenal Esraa.
Pengalamanku berikutnya adalah ketika aku melakukan perjalanan ke Dearborn Michigan di saat imanku sedang kokoh. Di sana, aku merasakan yang namanya keheningan yang bersahaja. Itu karena teman yang kukunjungi dan tempatku menginap adalah seorang muslimah yang memilih hidup tanpa musik. Dia mengajakku ke kajian-kajian, memberiku kamar pribadi lengkap dengan sajadah dan buku-buku keislaman. Di saat-saat inilah, aku merasa hubunganku dengan Allah begitu sangat dekat.
Sebagai seorang muslimah berhijab, aku masih sangat mencintai hidup dekat dengan alam. Saat ini aku berprofesi sebagai fotografer untuk acara nikahan dan instruktur Pilates. Aku mengajar perempuan dari semua kalangan. Kesehatan, kesejahteraan dan kedamaian dalam diri sangat penting bagiku. Setiap hari aku bersyukur pada Allah untuk jalan Islam yang telah diberikannya padaku. Terima kasih Allah, untuk semua keindahan yang telah Engkau ciptakan dan mengizinkan kami untuk menikmatinya sepuasnya. Alhamdulillah

Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG