Breaking News

Selasa, 31 Maret 2015

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam


SEMBARI mempromosikan buku terbarunya, Heretic, pada acara talkshow “The Daily Show” yang tayang pada 23 Maret, penulis serta aktivis anti-Islam kelahiran Somalia, Ayaan Hisi Ali membuat pernyataan mengejutkan: “Jika anda melihat pada kekerasan yang terjadi di seluruh dunia sekarang, 70% diantaranya dilakukan Muslim,” ungkapnya pada presenter Jon Stewart.
Jon Stewart tidak memintanya menunjukkan barang bukti dan Hirsi Ali tidak mengutip sumber apapun. Tetapi, dirinya membuat pernyataan serupa pada essay yang terbit tanggal 20 Maret 2015, yang menjadi preview bukunya di harian Wall Street Journal: “Menurut International Institute for Strategic Studies (IISS), setidaknya 70% kematian yang disebabkan oleh konflik bersenjata di seluruh dunia tahun lalu melibatkan Muslim.”
IISS adalah sebuah lembaga independen yang menangani kebijakan luar negeri yang berpusat di Inggris. Ketika dihubungiAlterNet mengenai statistic yang dibuat oleh Hirsi Ali, juru bicara IISS, Kat Slowe, menyatakan bahwa lembaganya tidak pernah membuat pernyataan tersebut dalam penelitiannya.
“Saya telah bebicara dengan beberapa staf ahli kami, dan mereka tidak tahu darimana statistic ini datang,” ujar Slowe. “Tebakan terbaik mereka adalah si jurnalis ini (Hirsi Ali) memiliki akses atau berlangganan database mengenai konflik bersenjata milik kami, lantas menghitungnya sendiri. Ada kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menyesatkan, karena jika konflik di Suriah tidak dihitung maka angka tersebut akan terlihat sangat berbeda,” imbuh Slowe. Konflik di Suriah menewaskan hampir 200.000 orang, dimana jumlah tersebut adalah hampir separuh dari seluruh orang yang tewas dalam konflik kekerasan tahun lalu. Dan tentu seluruh konflik tersebut tidak berakar pada agama.
Baik AHA Foundation yang dimiliki Hirsi Ali maupun American Enterprise Institute yang memperkerjakan Hirsi Ali sebagai peneliti mereka tidak menanggapi ketika ditanya mengenai statistic tersebut. E-mail yang dikirim oleh AlterNet kepada Hirsi Ali juga tidak dibalas.
Sekitar 24 jam setelah AlterNet berusaha menghubungi Hirsi Ali, yang bersangkutan membuat pernyataan publik mendukung klaim-nya tersebut. “Sangat menyedihkan bahwa 70% kematian dalam konflik bersenjata di dunia tahun lalu melibatkan Muslim,” kicaunya di akun Twitter pribadinya.
Hirsi Ali juga menyertakan link tentang hasil survey yang menyebutkan jumlah korban meninggal dalam konflik global. Survey tersebut dibuat oleh peneliti IISS, Hanna Ucko Neill dan Jens Wardenaer, yang tidak ada hubungannya sama sekali kepada kekerasan karena agama ataupun Muslim.
Tampaknya Hirsi Ali menghitung sendiri statistic milik IISS yang mendokumentasikan korban tewas dalam konflik di berbagai teritori, mulai dari Ukraina Timur hingga sub-Saharan Afrika terus ke Timur Tengah, dan Meksiko dimana pembantaian yang dilakukan kartel narkoba banyak terjadi. Slowe mengatakan bahwa adanya peningkatan korban tahun lalu karena adanya konflik Suriah, serta menjelaskan lebih lanjut bahwa klaim yang dibuat Hirsi Ali “menyesatkan” karena “konflik ini tidak berakar pada agama.”
Bukannya merespon pertanyaan jurnalis AlterNetAHA Foundation justru meneruskan email tersebut ke Washington Free Beacon, sebuah media sayap-kanan yang memiliki sejarah menuliskan cerita bohong serta dilebih-lebihkan untuk menimbulkan Islamophobia. Karena email tersebut, Free Beacon menyebut jurnalis AlterNet sebagai anti-Semitis.
Sejarah Penipuan
Statistik mencurigakan Hirsi Ali adalah penipuan baru yang dilakukan oleh salah satu penentang Islam paling gigih. Sementera aktivis anti-Muslim lainnya seperti Robert Spencer dan Pamela Geller telah termarginalisasi, Hirsi Ali masih menjadi favorit media mainstream Amerika. Bukunya, Heretic, Hiris Ali mengulangi lagi argument-argumennya terdahulu yang menimbulkan polemik. Tak ketinggalan dirinya meminta sesosok Muslim seperti Martin Luther, seorang anggota pemerintahan pada abad ke-16 yang dihujat karena membakar synagog milik Yahudi, yang dia bandingkan dengan penyakit mematikan. Dengan diterbitkannya buku tersebut, Hirsi Ali diterima dengan tangan terbuka oleh BBC, presenter CNN Anderson Cooper, dan juga Jon Stewart dari stasiun TV ABC.
Acara berita channel tersebut bahkan menuliskan kutipan dari Heretic, sementara New York Times Book Review bahkan mewawancarai Hirsi Ali secara ekslusif, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti buku anak-anak favoritnya
Kekuatan Hirsi Ali untuk meyakinkan terletak pada cerita pribadinya yang dramatis dan pesona publik yang telah dibentuknya. Dia telah memasarkan dirinya sebagai informan native, yang telah keluar dari lembah hitam Islam radikal dan menuju terangnya masyarakat Barat. Ceritanya dianggap menggugah serta menyentuh, karena menyediakan cerita yang ingin didengar orang Barat tentang diri mereka serta musuh mereka. Dengan sikap anti-Islam sedang memuncak di seluruh Eropa dan Amerika, kritik Hirisi Ali terhadap Islam sebagai kepercayaan penuh kekerasan adalah sebuah cap pengakuan yang besar. Satu-satinya masalah adalah, seperti tulisannya terhadap Islam, apa yang diberitahukan kepada orang lain tentang dirinya patut dipertanyakan.
Pada Mei 2006, program televisi Belanda Zembla secara seksama membongkar cerita dramatis yang didongengkan Hirsi Ali untuk mengangkat karirnya. Zembla menyimpulkan Hirisi Ali telah menjual ‘cerita penuh kerancuan.’
Terlahir dengan nama Ayaan Hirsi Magam, dia berimigrasi ke Belanda pada 1992, mengganti namanya menjadi Hirsi Ali, dan berbohong pada autoritan Belanda tentang masa lalunya. Tidak seperti ceritanya pada pemerintah, dia tidak datang dari Somalia yang porak poranda karena perang, tapi dari Kenya, dimana dia tinggal di lingkungan yang aman dan berada di naungan perlindungan PBB.
PBB juga membiayai sekolahnya di sebuah sekolah putri Muslim yang bagus. Meskipun dia mengatakan bahwa dirinya kabur dari perang sipil di Somalia, sebenarnya dia pergi sebelum perang tersebut pecah. Seumur hidup Hirsi Ali tidak pernah hidup di tengah perang dimanapun. Berkat kebohongannya, Hirsi Ali mendapatkan suaka politik hanya dalam waktu lima minggu.
Hirsi Ali memberi tahu penonton yang terpana pada sebuah talk show di TV Belanda bahwa keluarganya, yang katanya taat, telah memaksanya menikahi seorang pria Muslim yang kejam. Dimana dia tidak boleh menghadiri upacara pernikahannya sendiri, dan keluarganya mengancam untuk membunuhnya karena telah melecehkan kehormatan agama mereka. Tetapi, Zembla membeberkan cerita yang sebaliknya. Saudara laki-laki, bibi serta mantan suami Hirsi Ali masing-masing bersaksi bahwa dia hadir di upacara pernikahannya. Ibu HIrsi Ali diungkapkan telah mengirim anak laki-lakinya ke sebuah sekolah Kristen, menunjukkan bahwa keluarganya bukan fanatis Islam.
“Yeah, memang aku mengarang semuanya,” aku Hirsi Ali pada reporter Zembla yang mengkonfirmasi kebohongannya. “Aku mengaku namaku Ayaan Hirsi Ali dan bukannya Ayaan Hirsi Magan. Aku juga mengaku lahir di tahun 1967 padahal aslinya aku lahir tahun 1969.”
Klaim Hirsi Ali mengenai ancaman pembunuhan juga dusta belaka. Dia tetap berhubungan dengan ayah dan bibinya setelah meninggalkan suaminya. Bahkan sebenarnya, suaminya mengunjunginya ke pusat pengungsian di Belanda, dimana dia tinggal setelah pergi dari suaminya. Pria tersebut bahkan membiayai perjalanan Ali ke Eropa dengan perjanjian mereka akan bertemu lagi di Kanada, namun akhirnya dia mengabulkan permintaan cerai istrinya.
Dusta yang Menggulingkan Pemerintahan
Pada 2003, hanya satu dekade setelah mendapatkan suaka politik di Belanda, Hirsi Ali memenangkan pemilu untuk duduk di parlemen lewat Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi. Pimpinan VVD tahu bahwa kisah yang diceritakan Hirsi Ali pada formulir imigrasinya adalah sebuah kebohongan kelas kakap, karena Hirsi Ali telah mengakui pada partainya. Tapi mereka menutupi penipuan publik tersebut dan bahkan membantunya meningkatkan karirnya.
“Dia menyaksikan lima perang sipil di masa kecilnya, dan telah kabur bersama keluarganya berulang kali. Dia terbuat dari besi dan baja,” kata Neelie-Smit Kroes dari VVD saat itu, menguatkan klaim bahwa partai Hirsi Ali tahu dia berbohong.
Setahun setelah bergabung dengan parlemen Belanda, dimana dia mencoba untuk melarang sekolah Islam di Belanda, Hirsi Ali berkolaborasi dengan sutradara Belanda Theo van Gogh untuk memproduksi sebuah film documenter berjudul Submission. Film tersebut menggambarkan kekerasan terhadap wanita dalam komunitas Muslim sebagai hasil dari pemikiran Islam, menampilkan aktris yang berperan sebagai wanita yang teraniaya dan menayangkan wanita yang menggunakan niqab dan setengah telanjang dengan kalimat-kalimat dalam huruf hijaiyah tertulis di seluruh tubuhnya.
Van Gogh, seorang filmmaker dan kolumnis yang menyebut Muslim sebagai ‘penyetubuh kambing’, ditembak dan ditusuk hingga tewas oleh seorang Muslim radikal Belanda segera setelah film tersebut dirilis. Sebelum kabur dari TKP, pembunuh tersebut meninggalkan pesan di mayat van Gogh, mengancam akan membunuh Hirsi Ali juga. Sikap Hirsi Ali yang konsisten terhadap kejadian tersebut membuatnya dijuluki pahlawan di dunia Barat, terutama di Amerika pasca kejadian 9/11, dimana majalah Time memasukkannya dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di tahun 2005
Pengungkapan yang dilakukan Zembla pada Mei 2006 memandekkan karirnya dan membuat ribut Pemerintahan Belanda. Tidak ada yang lebih terpukul terhadap hal itu daripada teman serta sekutu Hirsi Ali di partai, Menteri Imigrasi Rita Verdonk. Wanita yang mendapatkan julukan Iron Rita karena kebengisannya terhadap penetapan peraturan anti-migran dan pendekatan demagogic-nya terhadap xenophobia tersebut, dipermalukan oleh terbongkarnya dongeng Hirsi Ali. Saat dia mengumumkan niatnya untuk melucuti kewarganegaraan Hirsi Ali, Verdonk malah dihujat habis-habisan di parlemen dan dipaksa mengalah.
Beberapa hari setelah Zembla membongkar kedoknya, Hirsi Ali mengumumkan untuk meninggalkan parlemen dan bergabung dengan American Enterprise Institute, lembaga penelitian berbasis di Washington yang menaungi banyak orang-orang neokonservatis yang membantu pengaturan invasi AS ke Irak. Tidak lama setelah kehebohan yang dibuat Hirsi Ali, Verdonk memperkenalkan “Hukum Integrasi”, salah satu undang-undang anti imigran yang paling kasar di Eropa. Hanya satu anggota dari Badan Perwakilan Belanda menentangnya. Akan tetapi, koalisi pemerintahan tersebut akan segera kolaps karena skandal Hirsi Ali tersebut. Dengan koalisi baru mulai memerintah pada Februari 2007, dan tanpa Verdonk dan Hirsi Ali berkuasa, pemerintah dapat mengadaptasi pendekatan yang lebih toleran terhadap para imigran.
Mendapat Beasiswa Harvard, Membela Breivik
Sejak kepindahannya ke AS, Hirsi Ali dirangkul oleh koalisi antara kelompok intervensi liberal, neokonservatif, dan ‘Atheis Baru’ seperti Christopher Hitchens, Sam Harris dan Bill Maher. Dengan tampil di channel Christian Broadcasting Network bersama Pat Robertson, yang menyalahkan homoseksualitas atas serangan 9/11, Hirsi Ali yang mengaku sebagai feminis mendapatkan banyak pengikut umat Kristiani. Meskipun dirinya memiliki pandangan negative terhadap Islam, yang disebutnya sebagai ‘perkumpulan destruktif, nihil, dan mematikan’, dia mendapatkan beasiswa dari Kennedy School of Government Universitas Harvard. Atau gara-gara itu dia dapat beasiswa.
Semakin naik statusnya di mata kaum intelktual Amerika, sejarah kebohongan Hirsi Ali makin panjang. Pada promosi bukunya yang laris manis di tahun 2007, Infidel, pihak penerbitan Simon & Schuster mengenyahkan klaim yang menentang cerita tentang Hirsi Ali selamat dari perang sipil. Baru-baru ini, cendekiawan Peggy Noonan melebih-lebihkan alasan di balik pindahnya Hirsi Ali dari Belanda ke Amerika. Noonan menulis, “Ayaan Hirsi Ali mendapatkan ancaman pembunuhan dan akhirnya mengungsi ke Amerika.” Sedikit, bahkan hampir tidak ada, portal berita Amerika yang menyebutkan bahwa Hirsi Ali pindah dari Belanda karena kredibilitas publiknya telah jatuh dan partai anti imigrannya masuk ke dalam krisis.
Dalam lawatannya ke Berlin di tahun 2012 untuk menerima Axel Springer Honorary Award dari penerbitan sayap kanan Jerman, Hirsi Ali tampaknya menyalahkan pembela multicultural liberal atas pembantaian yang dilakukan oleh ekstrimis Norwegia, Anders Breivik. Ali menyatakan bahwa mereka membuat Breivik tidak memiliki pilihan selain menggunakan kekerasan. Sekadar catatan, Breivik mengutip tulisan Hirsi Ali dalam manifesto setebal 1500 halaman yang menjelaskan rencananya untuk melakukan serangan terror di seluruh Norwegia.
“Pria itu membunuh 77 orang di Norwegia, karena dia takut Eropa akan dikuasai oleh Islam. Dia mungkin juga telah mengutip hasil kerja orang-orang yang berbicara dan menulis melawan Islam di Eropa dan Amerika, saya salah satunya, tapi dia tidak menyatakan di essay setebal 1500 halaman tersebut bahwa orang-orang ini yang menginspirasinya untuk membunuh. Dia mengatakan terang-terangan bahwa hukum yang memaksanya tutup mulut. Karena semua media untuk mengekspresikan pendapatnya kena sensor, maka dia tidak memiliki cara lain kecuali kekerasan.” Ujar Hirsi Ali dan disambut oleh standing ovation panjang.
Saat Universitas Brandeis (sebuah universitas Yahudi di Massachusetts) membatalkan rencana mereka untuk memberi gelar honoris causa kepada Hirsi Ali bulan April 2014, ini memberikan sinyal bahwa penyerangan sangat tajamnya terhadap Islam dan para penganutnya sudah tidak mempan lagi. Namun kemudian kasus Charlie Hebdo di Paris terjadi, dan ini seperti bukti dari semua pernyataan Hirsi Ali dan sesama aktivis anti-Islam. Dua bulan setelahnya, dia merilis Heretic.
Dengan membuat brand baru bagi dirinya sebagai ‘reformis’ yang berani seperti orang-orang kulit hitam yang berpawai dari Selma, Alabama memperjuangkan hak untuk ikut pemilu di tahun 1965, Hirsi Ali telah menemukan jalannya kembali ke lingkungan mainstream. Selama media Amerika masih mengakomodasi kegemarannya menyuarakan polemik tentang Islam, menganggap Hirsi Ali sebagai penjahat masih sebuah hal yang tabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed Template By Blogger Templates - Redesigned By TIKSMP.ORG